Jakarta (ANTARA) -
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) Adhi S. Lukman menyebut, kenaikan harga plastik berdampak langsung pada kenaikan harga produk makanan dan minuman (mamin) di pasaran.
Hal ini terjadi karena hampir seluruh produk mamin menggunakan plastik sebagai kemasan, sementara pasokan bahan tersebut mulai terbatas.
“Ini memang situasi yang cukup rumit di industri, khususnya makanan dan minuman. Hampir semua pakai plastik, dan kita juga kesulitan mendapat (bahan baku) dari pemasok,” ujarnya usai menghadiri Rapat Koordinator soal Investigasi Dagang AS di Jakarta, Senin.
Selain harga yang melonjak, ketersediaan bahan baku plastik juga menjadi persoalan serius. Sejumlah pemasok bahkan sudah menginformasikan potensi kehabisan stok bahan baku kemasan dalam beberapa bulan ke depan.
Baca juga: RI cari pasokan bahan baku plastik baru di tengah krisis global
“Beberapa sudah menyatakan kehabisan bahan baku untuk kemasan. Dari pemasok ada yang bilang terakhir Mei atau Juni sudah habis. Ini yang harus dicarikan solusinya,” katanya.
Adhi merinci lebih lanjut, kenaikan harga plastik terjadi secara signifikan dengan variasi yang cukup lebar. Kenaikan berkisar antara 30 persen hingga 100 persen, termasuk untuk kemasan sederhana seperti plastik untuk bakso dan produk daging beku.
"Misalnya kontribusi kemasan terhadap harga pokok itu sekitar 25 persen saja, kalau itu naik 100 persen kan berarti ke harga pokok tinggi sekali pengaruhnya sekitar 25 persen dan ini akan menyebabkan industri mengalami kesulitan untuk menjual, karena produknya pasti harganya mahal, sementara dari masyarakat terbatas," jelas dia.
Sebagai respons, sebagian pelaku industri telah mulai menyesuaikan harga jual produk di pasar. Bahkan, kenaikan harga sudah terlihat pada sejumlah komoditas kebutuhan dasar yang menggunakan kemasan plastik.
Baca juga: Komisi VII dorong regulasi industri AMDK berwawasan lingkungan
“Beberapa sudah naik harga. Di pasar, yang basic seperti beras, minyak goreng. Itu bukan barangnya yang naik, tapi kemasannya yang naik, sehingga terjadi kenaikan harga,” katanya.
Lebih lanjut, Adhi menuturkan tekanan biaya itu juga menggerus margin pelaku usaha.
"Katakan misalnya kalau kontribusi kemasan itu 20 persen, kalau harganya (plastik) naik 60 persen aja berarti kan sekitar 12 persen harga pokoknya naik. Kalau kita bisa naikkan harga jualnya 5 persen, berarti kan tekornya sudah 7 persen," tutur dia.
Untuk mengatasi keterbatasan pasokan, Adhi menyebut pelaku industri mendorong pemerintah membuka opsi impor bahan baku plastik dari negara alternatif lainnya.
Baca juga: Pramono sebut naiknya harga plastik jadi momentum untuk berinovasi
"Mau tidak mau kita harus impor. Karena kalau dalam negeri tidak tersedia, saya diskusi dengan industri hulu kita ya, industri hulu plastik mereka juga produksinya berkurang jauh, dan bahkan waktu itu saya dapat informasi sekitar 30 persen. Karena selain dalam negeri, mereka harus impor beberapa komponennya untuk memproduksi plastik-plastik kemasan," tambahnya.
Pewarta: Bayu Saputra
Editor: Abdul Hakim Muhiddin
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































