Fitrah yang menghidupi sesama

11 hours ago 2

Mataram (ANTARA) - Pagi itu, selepas gema takbir mereda di langit Mataram, arus manusia tidak langsung pulang. Sebagian bergerak ke rumah keluarga, sebagian lain menuju tempat yang lebih sunyi, pemakaman umum.

Di sana, tradisi ziarah kubur menghadirkan suasana yang berbeda. Haru, doa, dan kenangan bercampur dalam langkah-langkah pelan para peziarah. Di balik kesyahduan itu, ada denyut ekonomi kecil yang justru menguat, menghadirkan makna lain dari Idul Fitri yang sering luput dibaca.

Lebaran di Nusa Tenggara Barat (NTB) bukan sekadar perayaan spiritual. Ia adalah ruang pertemuan antara nilai-nilai keagamaan, tradisi sosial, dan dinamika ekonomi rakyat.

Di titik inilah, berkah Idul Fitri menemukan bentuknya yang paling nyata, tidak hanya dalam doa dan maaf, tetapi juga dalam perputaran rezeki yang menghidupi banyak orang.


Ziarah rakyat

Tradisi ziarah kubur, setelah Shalat Id, telah menjadi praktik sosial yang mengakar di NTB. Ribuan warga mendatangi pemakaman untuk mendoakan keluarga yang telah wafat. Aktivitas ini menciptakan ekosistem ekonomi musiman yang melibatkan banyak lapisan masyarakat.

Pedagang bunga rampai menjadi salah satu aktor utama. Dalam momentum Lebaran 2026, omzet mereka meningkat signifikan. Dalam hitungan setengah hari, pendapatan bisa mencapai tiga hingga empat kali lipat dibanding hari biasa.

Harga satu bungkus bunga rampai yang tetap terjangkau menjadi strategi adaptif di tengah kenaikan harga bahan baku akibat faktor cuaca dan tingginya permintaan.

Fenomena ini menunjukkan bahwa ekonomi rakyat memiliki fleksibilitas tinggi. Ketika harga bahan naik, pedagang tidak serta-merta menaikkan harga jual secara drastis.

Mereka justru menyesuaikan volume atau isi produk agar tetap dapat dijangkau pembeli. Ini adalah bentuk kearifan ekonomi yang lahir dari pengalaman panjang bertahan di sektor informal.

Selain pedagang bunga, muncul pula layanan-layanan pendukung yang bersifat spontan. Penjualan air bersih dalam botol bekas, misalnya, menjadi solusi praktis bagi peziarah yang tidak sempat membawa perlengkapan dari rumah. Hal kecil seperti ini mencerminkan kemampuan masyarakat membaca kebutuhan pasar secara cepat.

Di sisi lain, profesi juru parkir dadakan juga mengalami lonjakan permintaan. Di sejumlah titik pemakaman di Lombok Tengah, pendapatan harian juru parkir bisa melampaui Rp100 ribu, angka yang cukup berarti bagi pekerja sektor informal. Aktivitas ini memang bersifat temporer, tetapi memberikan bantalan ekonomi tambahan bagi keluarga.

Lebaran, dengan demikian, menciptakan efek pengganda ekonomi yang menarik. Ia membuka ruang bagi ekonomi mikro untuk bergerak, bahkan dalam waktu yang sangat singkat.

Di balik itu, ada pertanyaan yang patut diajukan, sejauh mana potensi ini dikelola secara lebih sistematis agar manfaatnya tidak hanya bersifat sesaat?


Fitrah sosial

Berkah Idul Fitri di NTB tidak hanya tercermin dalam aktivitas ekonomi, tetapi juga dalam penguatan nilai sosial. Shalat Id yang digelar di lapangan terbuka dan masjid menjadi simbol kesetaraan. Ribuan orang berdiri dalam satu saf, tanpa sekat status sosial, menegaskan kembali esensi fitrah manusia.

Momentum ini kemudian berlanjut dalam praktik saling memaafkan. Tradisi halal bihalal, kunjungan keluarga, hingga pertemuan komunitas menjadi ruang rekonsiliasi sosial. Dalam konteks masyarakat NTB yang majemuk, momen ini memiliki arti penting dalam menjaga harmoni.

Lebih jauh, nilai solidaritas juga terlihat dalam kebijakan negara. Pemberian remisi kepada ribuan warga binaan di berbagai lembaga pemasyarakatan di NTB menjadi simbol bahwa Idul Fitri adalah momentum memberi kesempatan kedua.

Lebih dari seribu narapidana menerima pengurangan masa hukuman, bahkan sebagian di antaranya langsung bebas dan kembali ke tengah keluarga.

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |