Jakarta (ANTARA) - Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal menilai industrialisasi berorientasi ekspor perlu diperkuat untuk menjaga neraca perdagangan Indonesia di tengah tekanan impor migas pada triwulan III 2026.
“Kalau ingin supaya neraca perdagangan kita terus sehat, yang didorong memang industrialisasi dan industrinya tentu saja juga yang berorientasi ekspor, bukan hanya berorientasi impor,” kata Faisal saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Jumat.
Menurut dia, kenaikan harga minyak meningkatkan tekanan terhadap impor karena Indonesia merupakan negara pengimpor bersih minyak. Di luar sektor migas, ia juga mencermati kecenderungan pelemahan volume ekspor nonmigas.
Untuk triwulan III, Faisal memperkirakan tekanan terhadap kinerja perdagangan masih berlangsung sehingga ruang surplus berpotensi menyempit.
Baca juga: Gapki tekankan penegakan hukum dalam sistem tata kelola ekspor
“Kemungkinan di kuartal ketiga memang tekanan terhadap kinerja perdagangan masih cenderung terjadi. Jadi, surplusnya akan cenderung menipis dan tidak menutup kemungkinan juga akan kembali defisit,” ujarnya.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada Juli 2026, bulan pertama triwulan III, masih membukukan surplus sebesar 121,9 juta dolar AS atau sekitar Rp2,16 triliun. Ekspor tercatat 26,22 miliar dolar AS, sedangkan impor 26,09 miliar dolar AS.
Surplus Juli ditopang neraca nonmigas sebesar 3,10 miliar dolar AS atau sekitar Rp55,03 triliun yang mengimbangi defisit migas sebesar 2,98 miliar dolar AS atau sekitar Rp52,90 triliun. Nilai impor migas pada bulan yang sama mencapai 3,77 miliar dolar AS atau sekitar Rp66,93 triliun.
Faisal mengatakan kinerja ekspor nonmigas Indonesia pascapandemi COVID-19 turut terbantu oleh peningkatan ekspor manufaktur, termasuk produk turunan pertambangan yang berkembang melalui kebijakan hilirisasi.
Pewarta: Aria Ananda
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































