Ekonom dukung transisi kompor listrik guna kurangi beban subsidi LPG

3 hours ago 1
Kompor listrik sangat penting karena kita perlu bergeser dari LPG yang sekitar 75–80 persen impor dan semakin menjadi beban,

Jakarta (ANTARA) - Managing Director Energy Shift Institute Putra Adhiguna mendukung transisi dari kompor gas menuju kompor listrik untuk mengurangi beban subsidi LPG, di tengah melonjaknya harga minyak dunia akibat perang antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran.

“Kompor listrik sangat penting karena kita perlu bergeser dari LPG yang sekitar 75–80 persen impor dan semakin menjadi beban,” ujar Putra ketika dihubungi ANTARA dari Jakarta, Rabu.

Putra menyampaikan, pentingnya untuk menerapkan solusi energi untuk rumah tangga secara regional, bukan secara nasional, sehingga lebih tepat sasaran.

Untuk daerah tertentu seperti perkotaan di mana jaringan distribusi gas bisa lebih kuat, Putra menilai penggunaan jaringan gas (jargas) lebih menjanjikan.

Baca juga: MPR: Transisi ke kompor listrik lebih murah dibandingkan impor LPG

Sedangkan, untuk daerah lain dengan jaringan listrik yang sudah memadai dan belum masuk di dalam peta jalan pembangunan jargas, maka mengganti kompor gas menjadi kompor listrik diyakini oleh Putra menjadi jalan utama.

“Alasan bahwa anggaran tidak mencukupi harus disandingkan dengan beban subsidi LPG yang sudah melebihi kewajaran,” ucap Putra.

Ia menyoroti perlunya mengambil pelajaran dari program kompor listrik dan pemasak nasi (rice cooker) sebelumnya untuk memastikan kesiapan masyarakat, baik dari sisi ketersediaan peralatan dan kesiapan jaringan listrik.

“Perhitungan PLN mengklaim biaya memasak bisa lebih hemat 10–15 persen (dibandingkan LPG),” ujar Putra.

Baca juga: Pertamina usul pembatasan pembelian LPG 3 kg jadi 10 tabung per bulan

Dalam kesempatan tersebut, Putra juga menyampaikan perlu antisipasi gangguan-gangguan dari pihak yang merasa terganggu dengan transisi dari kompor gas ke kompor listrik.

“Penting diantisipasi, jangan sampai politik-politik kecil menghalangi kepentingan nasional untuk bisa lebih mandiri energi, karena perubahan menuju kompor listrik tentu akan mengusik rantai pemasok yang sebelumnya ada,” ucap Putra.

Wakil Ketua MPR Eddy Soeparno menyampaikan, transisi dari kompor yang memasak menggunakan LPG menjadi kompor listrik membutuhkan biaya yang lebih murah apabila dibandingkan dengan biaya yang digelontorkan untuk subsidi impor LPG.

Mengubah kompor LPG menjadi kompor listrik menjadi sorotan Eddy, sebab harga LPG turut dipengaruhi oleh harga minyak dunia yang kian meroket.

Baca juga: Pengamat sebut lonjakan harga minyak dunia momentum percepat B50

Saat ini, harga minyak mentah jenis Brent (ICE) berada di atas 100 dolar AS per barel. Harga tersebut lebih tinggi apabila dibandingkan dengan rata-rata harga minyak pada Januari 2026, di mana jenis Brent (ICE) sebesar 64 dolar AS per barel.

“Sebagaimana diketahui, Indonesia mengimpor 75–80 persen kebutuhan LPG yang harganya sejalan dengan harga minyak mentah,” ucap Eddy.

Ke depannya, lanjut dia, ia akan mendukung upaya pemerintah mempercepat proses elektrifikasi, baik di sektor transportasi, industri, serta memasak menggunakan kompor listrik.

Wacana transisi dari kompor LPG menjadi kompor listrik pernah bergulir pada masa kepresidenan Joko Widodo (Jokowi).

Baca juga: Celios: Realokasi anggaran dapat jaga stabilitas harga energi

Akan tetapi, pada September 2022, PT PLN (Persero) membatalkan program pengalihan kompor LPG 3 kilogram (kg) ke kompor listrik untuk menjaga kenyamanan masyarakat dalam pemulihan ekonomi pascapandemi COVID-19.

Pewarta: Putu Indah Savitri
Editor: Abdul Hakim Muhiddin
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |