Jakarta (ANTARA) - Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan Satuan Tugas (Satgas) Sapu Bersih Pelanggaran Harga, Keamanan, dan Mutu Pangan terus memantau pasar pasca Lebaran 1447 Hijriah guna menjaga stabilitas stok dan harga pangan strategis.
"Pemantauan harga pangan masih intensif dilakukan pasca Lebaran agar harga pangan tetap wajar dan pasokan aman," kata Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas sekaligus Ketua Pelaksana Satgas Saber Pelanggaran Pangan I Gusti Ketut Astawa dikonfirmasi di Jakarta, Rabu.
Dia menyampaikan pengawasan dilakukan di berbagai daerah di Indonesia, salah satunya di Kota Jakarta Timur dan Kabupaten Bekasi yang dilakukan pada H+3 Lebaran.
Ketut menyampaikan secara umum kondisi pangan pasca Lebaran masih terjaga, dengan stok yang cukup meskipun beberapa pedagang belum kembali berjualan.
“Memang setelah Lebaran kondisi belum sepenuhnya normal. Di lapangan kami terus pantau harga dan cek pasokan supaya tetap berjalan,” ujar Ketut.
Menurutnya, sebagian pedagang masih belum kembali berjualan, sehingga beberapa komoditas seperti daging sapi, sayur mayur, dan beras belum tersedia secara merata.
"Kondisi itu cukup berpengaruh pada harga komoditas segar yang cenderung lebih tinggi, terutama yang sangat bergantung pada kelancaran pasokan harian," ujarnya.
Di pasar tradisional Ciracas Jakarta Timur, kata Ketut, harga cabai masih tercatat berada di atas harga acuan yang ditetapkan pemerintah. Harga dipengaruhi pola musiman di tingkat produksi, khususnya karena periode libur petik saat Lebaran yang membuat pasokan dari petani sedikit terhenti.
"Cuman biasanya kalau menjelang Lebaran, dia libur petik. Nah kalau libur petik, biasanya pasokan sedikit terkoreksi, itu agak naik," katanya.
Baca juga: Kabapanas: Fluktuasi harga pangan saat Ramadhan dan Idul Fitri terjaga
"Tapi di lapangan ini kan masih banyak barang-barang sehingga pasokan secara prinsip, walaupun mungkin di Lebaran banyak yang libur, tapi pasokan di pasar-pasar, stok di pasar-pasar relatif sudah bagus," tambah Ketut.
Meskipun demikian, dia mengatakan perkembangan di daerah produsen mulai menunjukkan tren positif. Harga cabai di Kota Surakarta per 24 Maret terpantau mulai menurun, dengan cabai merah keriting di kisaran Rp35.000 per kilogram (kg), cabai rawit merah Rp55.000–Rp 60.000 per kg, dan cabai merah besar sekitar Rp40.000 per kg.
Kondisi tersebut menunjukkan pasokan dari sentra produksi di Jawa Tengah mulai kembali normal, sehingga diharapkan dapat segera menekan harga di wilayah konsumsi seperti Jakarta dalam beberapa waktu ke depan.
Lebih lanjut, ia mengingatkan harga di pasar tradisional bersifat dinamis karena menggunakan sistem tawar-menawar, sehingga masyarakat diharapkan aktif melakukan tawar-menawar saat bertransaksi guna mendapatkan harga yang baik.
“Dan sekali lagi tolong diingat, pasar tradisional itu adalah pasar tawar-menawar. Jadi kalau kita beli belanja sekali tanya langsung harga, itu di ritel modern. Kalau di pasar harus tawar-menawar,” tambah Ketut.
Sementara itu di ritel modern, harga dan stok komoditas pangan relatif aman. Beras premium dijual Rp14.900 per kg, daging sapi Rp128.900 per kg, telur ayam ras Rp29.700 per kg, serta gula konsumsi Rp17.500 per kg.
Untuk komoditas cabai, harga berada di kisaran Rp 37.500–41.000 per kg. Ketersediaan ini dapat menjadi alternatif bagi masyarakat di tengah belum pulihnya aktivitas penuh di pasar tradisional.
Baca juga: Bapanas perkuat intervensi jaga stabilitas harga pangan jelang Lebaran
Lebih lanjut, Ketut menyebutkan berdasarkan pemantauan di Pasar Tambun Kabupaten Bekasi, harga minyak goreng Minyakita sudah sesuai harga eceran tertinggi (HET) Rp15.700 per liter, kemudian telur ayam ras dijual Rp30.000 per kg menandakan angka yang sama dengan harga acuan penjualan (HAP).
Lalu, di ritel modern, harga beras SPHP dijual Rp62.500 per 5kg, daging ayam ras Rp34.900 per kg, dan gula konsumsi Rp17.500 per kg, serta bawang putih Rp36.500 per kg.
Satgas Pangan juga mengingatkan pelaku usaha untuk menjual komoditas sesuai ketentuan, tidak melakukan penimbunan, serta menjaga distribusi tetap lancar agar harga tetap stabil di tingkat konsumen.
"Hal ini sejalan dengan arahan Kepala Badan Pangan Nasional Bapak Andi Amran Sulaiman, yang menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara produksi dan kelancaran distribusi sebagai kunci stabilitas harga di lapangan," kata Ketut.
Baca juga: CORE: Pemerintah perlu mitigasi tantangan ekonomi pascaLebaran
Baca juga: Pemerintah perkuat cadangan pangan hadapi potensi "Godzilla El Nino"
Baca juga: Bapanas tegaskan harga pangan tak lampaui HAP-HET meski IPH naik
Pewarta: Muhammad Harianto
Editor: Laode Masrafi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































