Washington (ANTARA) - Sebagian besar warga Amerika menilai aksi militer AS terhadap Iran telah melampaui batas, seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap kenaikan harga BBM, menurut jajak pendapat AP-NORC.
Survei yang dilakukan pada 19-23 Maret terhadap 1.150 orang dewasa menunjukkan bahwa 59 persen warga Amerika menganggap aksi militer AS di Iran telah melampaui batas.
Pandangan ini terutama terlihat di kalangan Demokrat (sekitar 9 dari 10 orang) dan independen (sekitar 6 dari 10 orang).
Sekitar 4 dari 10 orang dewasa menilai upaya mencegah Iran mengancam Israel sebagai prioritas penting kebijakan luar negeri.
Sementara itu, hanya 3 dari 10 yang menilai penggantian pemerintah Iran dengan pemerintahan yang lebih ramah terhadap kepentingan AS sebagai hal yang setidaknya "sangat" penting.
Sekitar 34 persen warga dewasa Amerika setuju dengan cara Presiden Donald Trump menangani kebijakan luar negeri, hampir tidak berubah dibandingkan 36 persen pada Februari.
Pada 28 Februari, AS dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di ibu kota Teheran, yang menyebabkan kerusakan dan menewaskan warga sipil.
Iran membalas dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah.
Eskalasi tersebut menyebabkan blokade de facto Selat Hormuz, jalur utama pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global.
Gangguan itu juga memengaruhi produksi minyak di kawasan dan mendorong kenaikan harga.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti
Baca juga: AS dan Iran akan berunding di Pakistan akhir pekan, kata IAEA
Baca juga: Iran: Tak ada negosiasi jika AS tak ubah sikap
Penerjemah: Asri Mayang Sari
Editor: Anton Santoso
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































