Jakarta (ANTARA) - Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti mendorong penguatan iklim usaha untuk memperkuat arus investasi asing masuk ke Indonesia.
Saat dihubungi di Jakarta, Jumat, ia menyampaikan untuk menarik investasi asing secara berkelanjutan, diperlukan sejumlah pembenahan yang mampu meningkatkan daya tarik Indonesia sebagai tujuan investasi.
Menurut dia, faktor pertama yang harus dipastikan adalah kepastian hukum bagi pelaku usaha. Selain itu, investor juga akan mempertimbangkan prospek pasar dan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan sebelum menanamkan modal.
Esther menambahkan ketersediaan bahan baku yang memadai, ekosistem usaha yang mendukung, serta integrasi dengan rantai pasok global menjadi faktor penting lainnya dalam menarik investor asing.
Di sisi lain, dukungan infrastruktur dasar seperti energi, listrik, dan air yang andal juga menjadi syarat utama untuk meningkatkan daya saing Indonesia dibandingkan negara tujuan investasi lainnya.
Lebih lanjut, harmonisasi peraturan antar instansi baik pusat maupun daerah juga diperlukan agar investor memperoleh kepastian dalam menjalankan usahanya.
Indef menilai penguatan iklim investasi menjadi semakin penting mengingat sejumlah indikator fundamental ekonomi masih menghadapi tekanan meski pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat cukup tinggi.
Dalam kajian yang dilakukan pihaknya, Indef mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 5,61 persen masih ditopang konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah, sementara investasi, manufaktur, dan perdagangan luar negeri belum cukup kuat menopang pertumbuhan jangka panjang.
Kajian tersebut juga menunjukkan tekanan terhadap rupiah, cadangan devisa, serta meningkatnya risiko fiskal menjadi sinyal bahwa perekonomian nasional masih menghadapi tantangan yang perlu diantisipasi.
Oleh karena itu, Indef merekomendasikan agar pemerintah tidak hanya berfokus mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperkuat kualitas pertumbuhan, produktivitas, dan daya tahan ekonomi nasional.
Menurutnya, penguatan investasi produktif, sektor manufaktur, serta ekspor bernilai tambah dinilai perlu dilakukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap konsumsi domestik dan belanja pemerintah.
Baca juga: Danantara rilis obligasi 1,5 miliar dolar AS disambut antusias pasar
Baca juga: BP Batam perkuat investasi sektor digital lewat Nongsa Digital Park
Baca juga: JK dan Prabowo bahas investasi Rp70 triliun pengembangan energi hijau
Pewarta: Ahmad Muzdaffar Fauzan
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































