CORE: Penguatan "cold chain" kunci putuskan siklus gejolak harga cabai

2 weeks ago 8

Jakarta (ANTARA) - Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Eliza Mardian menilai penguatan cold chain atau rantai pendingin menjadi langkah penting untuk menekan gejolak harga pangan hortikultura terutama cabai yang berulang setiap tahun.

Eliza mengatakan komoditas hortikultura seperti cabai memiliki karakteristik cepat rusak atau highly perishable sehingga membutuhkan sistem penyimpanan dan distribusi yang lebih kuat.

“Penguatan cold storage (ruang penyimpanan dingin) dan cold chain logistics (sistem logistik rantai dingin) memiliki urgensi tingkat tertinggi dalam memutus siklus fluktuasi harga hortikultura,” kata Eliza kepada ANTARA di Jakarta, Jumat.

Menurut dia, tanpa teknologi penyimpanan yang memadai, daya simpan cabai segar hanya bertahan beberapa hari sehingga harga mudah anjlok saat panen raya dan melonjak ketika pasokan menipis.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Kementerian Pertanian pada 2023 mencatat kerugian pascapanen hortikultura di Indonesia mencapai sekitar 14 persen per tahun.

Ia menjelaskan pola tersebut membuat harga pangan hortikultura di Indonesia cenderung cepat naik, lambat turun, dan berulang setiap tahun dengan intensitas yang berbeda.

Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional yang dikelola Bank Indonesia mencatat harga cabai rawit merah pada awal Juni 2026 masih berada di kisaran Rp84.400 per kilogram (kg) di tingkat pedagang eceran nasional.

Dalam beberapa pekan terakhir, harga cabai rawit merah juga bergerak fluktuatif dari kisaran Rp54.700 per kg pada awal Mei menjadi lebih dari Rp84 ribu per kg menjelang Idul Adha.

“Ini fenomena klasik volatile food Indonesia yang cepat naiknya, lambat turun, dan berulang setiap tahun dengan variasi intensitas,” ujar dia.

​​​​​​​Eliza menilai persoalan tersebut bersifat struktural karena komoditas seperti cabai ditanam mayoritas oleh petani skala kecil, memiliki umur simpan pendek, dan sangat sensitif terhadap cuaca serta hama penyakit.

Selain itu, sentra produksi yang ia nilai terkonsentrasi dan rantai distribusi yang panjang ke berbagai daerah turut meningkatkan risiko penyusutan pasokan selama pengiriman.

Menurut Eliza, kondisi hortikultura berbeda dengan beras yang memiliki Cadangan Beras Pemerintah (CBP) dan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dalam skala besar.

“Cabai berbeda dengan beras, karena ada CBP dan SPHP skala besar. Sementara cabai tidak memiliki buffer stock yang kuat,” katanya.

​​​​​​​​​​​​​​Karena itu, ia mendorong pemerintah membangun dan mengembangkan cold chain nasional, termasuk untuk komoditas hortikultura seperti cabai, bawang merah, dan tomat.

Sementara itu, pemerintah melalui Perum Bulog tengah membangun 100 gudang pangan nasional untuk memperkuat penyimpanan dan penyerapan komoditas pangan di berbagai daerah.

Program tersebut ditujukan mendukung stabilisasi pasokan pangan dan penguatan infrastruktur pascapanen dengan nilai anggaran sekitar Rp5 triliun.

Eliza menilai pembangunan infrastruktur penyimpanan pangan sebaiknya tidak hanya difokuskan pada beras dan jagung, tetapi juga diarahkan pada komoditas hortikultura yang lebih rentan mengalami gejolak harga akibat keterbatasan rantai pendingin seperti cabai, bawang merah, dan tomat.

Cold storage yang terintegrasi di sentra produksi dan pasar induk dinilai dapat berfungsi sebagai penyangga pasokan karena mampu memperpanjang umur simpan hortikultura lebih lama saat produksi melimpah.

“Keberadaan cold storage terintegrasi di pasar induk dan sentra produksi akan berfungsi sebagai penyangga pasokan,” katanya.

Kajian World Resources Institute (WRI) Indonesia pada 2022 juga menunjukkan penguatan sistem penyimpanan dan distribusi pangan dapat membantu mengurangi kehilangan pangan hortikultura secara signifikan.

WRI mencatat penggunaan peti selama pengangkutan mampu mengurangi kehilangan produk sayur dan buah hingga 87 persen.

Dengan demikian, pasokan dapat dikeluarkan kembali ke pasar saat terjadi penurunan produksi atau kenaikan permintaan, terutama pada periode hari besar dan cuaca ekstrem.

Selain rantai pendingin, Eliza juga menilai pemerintah perlu memperkuat sistem data dan prakiraan pangan yang mengintegrasikan produksi dalam waktu nyata, prakiraan cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), serta permintaan pasar.

“Perlu ada sistem data dan forecasting yang terintegrasi antara produksi real-time, prakiraan cuaca BMKG, dan permintaan pasar agar gejolak harga hortikultura tidak terus berulang setiap tahun,” kata Eliza.

Pewarta: Aria Ananda
Editor: Virna P Setyorini
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |