Air mata Raul Jimenez

1 week ago 13
Kelak saat pensiun tiba, Jimenez meninggalkan warisan yang sangat berharga bagi sepak bola Meksiko dan dunia

Jakarta (ANTARA) - Selalu ada air mata di titik penting kehidupan seorang Raul Jimenez, penyerang tajam yang masih berstatus sebagai pencetak gol terbanyak Wolverhampton Wanderers di Liga Inggris (Premier League) dengan 40 gol.

Salah satu momen tersebut terjadi di Stadion Azteca, Mexico City, pada Kamis (11/6) malam waktu setempat saat dia memperkuat tim nasional Meksiko menghadapi Afrika Selatan pada pembukaan Piala Dunia 2026.

Begitu sundulannya dari jarak dekat masuk ke gawang Afrika Selatan, yang pada akhirnya membawa Meksiko menang 2-0, Jimenez tidak kuasa menahan tangis.

Emosinya meluap begitu saja. Bagi yang mengenalnya, hal itu terasa wajar lantaran terlalu banyak yang dilalui dan dikorbankan Jimenez untuk gol tersebut, gol pertamanya setelah bermain di empat edisi Piala Dunia.

Langkah Jimenez menuju Piala Dunia 2026 juga berat. Di tengah semua persiapan bersama skuad negara menuju turnamen itu, dia kehilangan sang ayah, Raul Jimenez Vega, yang wafat pada Maret 2026 karena kanker pankreas.

Duka menghantam dadanya begitu keras. Jimenez mengaku sang ayah sangat penting baginya. Ayahnya menjadi alasan di balik semua pencapaian Jimenez di lapangan hijau.

Setiap aksi di sepanjang kariernya yang gemilang, Jimenez selalu mempersembahkannya untuk sang ayah. Itulah yang membuat ruang kosong muncul di hidupnya begitu sang ayah berpulang.

Saat Jimenez bertarung untuk tim nasional Meksiko di Piala Dunia 2014, 2018 dan 2022, ayahnya tidak pernah absen memberikan motivasi meski Jimenez tidak membuat satu gol pun di tiga penyelenggaraan itu. Namun pada Piala Dunia 2026, kisahnya berbeda.

Jimenez menciptakan gol perdananya di Piala Dunia, mendapatkan pujian, dielu-elukan masyarakat Meksiko, tetapi ayahnya tidak ada di sisinya. Tidak heran Jimenez begitu larut dalam kesedihan.

Cerita Raul Jimenez adalah tentang perjuangan. Duka hanyalah sebagian kecil rintangan yang harus dihadapinya.

Dia pernah melawan situasi yang lebih berat, yang hampir membuatnya cacat, menghentikan kariernya atau bahkan meninggal dunia. Andai yang terburuk terjadi, Raul Jimenez tidak mungkin dapat berlaga di Piala Dunia 2026.

Dengan mental yang seteguh karang, Jimenez bertahan. Dia tidak pernah menyerah walau, tentu saja, air mata sering kali menyertai.


Hidup dan mati

Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |