Ahli saraf sebut konsumsi alkohol secara rutin percepat penuaan otak

1 day ago 6

Jakarta (ANTARA) - Konsumsi alkohol secara rutin, terutama pada malam hari atau dalam jumlah berlebihan, dapat mempercepat proses penuaan otak karena memengaruhi fungsi sel saraf, kualitas tidur, hingga kesehatan pembuluh darah, menurut ahli saraf.

Dikutip dari Eating Well pada Kamis, dokter spesialis neurologi Lynette Gogol mengatakan kebiasaan mengonsumsi alkohol sering kali dianggap tidak berbahaya karena telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat, padahal penggunaan alkohol secara rutin, termasuk untuk membantu relaksasi atau mengatasi stres, dapat menghambat proses penuaan otak yang sehat.

Sementara itu, ahli saraf Zack Ramilevich menjelaskan alkohol merupakan zat yang bersifat neurotoksik sehingga dapat mengganggu fungsi sel-sel otak, jalur materi putih yang menghubungkan berbagai bagian otak, bahkan memengaruhi ukuran otak.

Penelitian pencitraan otak juga menunjukkan konsumsi alkohol dalam jumlah lebih tinggi dikaitkan dengan berkurangnya volume materi abu-abu dan materi putih yang berperan dalam fungsi berpikir, mengingat, mengatur emosi, dan mengambil keputusan.

Baca juga: Minuman soda biasa maupun versi diet tingkatkan risiko penyakit hati

Selain itu, konsumsi alkohol juga dapat mengganggu kualitas tidur. Meski membuat seseorang lebih mudah mengantuk, alkohol diketahui dapat mengurangi kualitas tidur, mengganggu fase tidur REM, serta meningkatkan risiko mendengkur dan sleep apnea. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat memengaruhi daya ingat dan fungsi kognitif.

Gogol menambahkan alkohol juga dapat merusak kesehatan pembuluh darah dengan meningkatkan tekanan darah, risiko fibrilasi atrium, stroke, stres oksidatif, dan peradangan. Dampak tersebut dapat mengurangi ketahanan otak terhadap proses penuaan.

Menurut Ramilevich, konsumsi alkohol juga dapat mengganggu penyerapan sejumlah vitamin penting, seperti vitamin B1, folat, dan vitamin B12, yang berperan dalam metabolisme otak dan pembentukan neurotransmiter. Di sisi lain, proses pemecahan alkohol menghasilkan asetaldehida, senyawa beracun yang dapat memicu peradangan dan stres oksidatif sehingga mempercepat kerusakan sel-sel otak.

Ramilevich mengatakan tidak mengonsumsi alkohol merupakan pilihan paling aman bagi kesehatan otak, terutama bagi orang yang memiliki faktor risiko seperti gangguan tidur, penyakit hati, depresi, riwayat kecanduan, atau riwayat demensia dalam keluarga.

Meski sejumlah pedoman kesehatan masih memperbolehkan konsumsi alkohol dalam jumlah sedang, ia mengingatkan bahwa batas tersebut bukan berarti bebas risiko. Mengurangi frekuensi maupun jumlah konsumsi alkohol tetap dapat memberikan manfaat bagi kesehatan otak dalam jangka panjang.

Baca juga: Konsumsi minuman manis dan alkohol pengaruhi kesehatan rambut

Baca juga: Teknologi laser mampu deteksi minuman beralkohol palsu yang mematikan

Penerjemah: Farika Nur Khotimah
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |