Palembang (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim kemarau di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) terjadi pada Agustus hingga September 2026, sehingga masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel Wandayantolis di Palembang, Jumat, mengatakan fenomena El Nino saat ini telah berada pada kategori kuat dan masih berpotensi meningkat menjadi sangat kuat.
Menurutnya, fenomena El Nino saat ini sudah aktif pada level kuat dan masih berpotensi meningkat menjadi sangat kuat. Namun berdasarkan analisis BMKG, kemarau tahun ini diprakirakan tidak sekering tahun 1997 maupun 2015.
"Kemarau diperkirakan berlangsung sampai pertengahan Oktober. Hujan masih mungkin terjadi, tetapi intensitasnya rendah sehingga belum efektif menghentikan kemunculan hotspot," ujarnya.
Baca juga: Waspada, BMKG prediksi El Nino bertahan hingga kuartal I 2027
Ia menjelaskan kondisi kering di sejumlah wilayah Sumsel juga terlihat dari data Hari Tanpa Hujan (HTH). Saat ini terdapat beberapa wilayah yang telah mengalami HTH lebih dari 40 hari.
Namun secara umum sebagian besar wilayah Sumsel mencatat HTH selama enam hingga 10 hari. Kondisi tersebut dipengaruhi hujan yang terjadi pada 19-30 Juli 2026 sebagai dampak pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
"Sempat terjadi hujan pada akhir Juli, sehingga rangkaian HTH di banyak wilayah terputus. Karena itu sebagian besar HTH saat ini berada pada kisaran 6-10 hari, meski masih ada beberapa wilayah yang sudah lebih dari 40 HTH," jelasnya.
Baca juga: BMKG ingatkan ESDM hingga PLN antisipasi lonjakan listrik saat El Nino
Meski hujan sempat terjadi, BMKG mencatat akumulasi curah hujan sepanjang Juli 2026 di sebagian besar wilayah Sumsel masih berada di bawah normal atau lebih rendah dibandingkan rata-rata klimatologis.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa secara keseluruhan Juli 2026 masih didominasi curah hujan di bawah normal, sehingga potensi kekeringan dan karhutla perlu tetap diwaspadai.
"Karena itu masyarakat tetap perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla, terutama saat memasuki puncak musim kemarau pada Agustus dan September," ujar Wandayantolis.
Baca juga: Pemerintah intensifkan modifikasi cuaca, cegah karhutla dan kekeringan
Pewarta: Ahmad Rafli Baiduri
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































