Jakarta (ANTARA) - PT Bank Neo Commerce Tbk (BNC) membukukan laba bersih setelah pajak (profit after tax/PAT) sebesar Rp294,85 miliar pada semester I 2026, meningkat 6,81 persen secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan semester I 2025 sebesar Rp276,05 miliar.
“Fokus kami selalu pada penguatan tata kelola serta memastikan produk dan layanan yang kami hadirkan tetap relevan dengan kebutuhan keuangan masyarakat, terutama untuk kebutuhan sehari-hari,” kata Direktur Utama Bank Neo Commerce Eri Budiono dalam media gathering di Jakarta, Jumat.
Per akhir Juni 2026, total aset Bank Neo Commerce mencapai Rp17,45 triliun, menurun sebesar 2,83 persen (yoy). Kredit juga mencatat penurunan, yakni sebesar 11,79 persen (yoy) menjadi Rp7,13 triliun pada semester I 2026.
Menurut perseroan, penurunan tersebut terutama berasal dari segmen komersial dan korporat sebagai bagian dari langkah perseroan untuk melakukan optimalisasi portofolio serta meningkatkan kualitas aset di tengah kondisi ekonomi yang masih penuh tantangan.
Meski total kredit mengalami penurunan, perseroan mencatat penyaluran kredit kepada segmen konsumer dan UMKM secara gabungan mencapai Rp5,80 triliun, tumbuh 6,68 persen (yoy) dibandingkan Rp5,44 triliun pada semester I 2025.
Hal ini, catat perseroan, menunjukkan komitmen BNC untuk terus memperkuat pembiayaan pada segmen yang memiliki potensi pertumbuhan jangka panjang sekaligus menjaga kualitas portofolio kredit.
Dari sisi kualitas, rasio non performing loan (NPL) gross berhasil ditekan menjadi 2,99 persen dibandingkan 3,10 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Perbaikan kualitas kredit tersebut, catat perseroan, merupakan hasil dari penguatan tata kelola risiko, penyempurnaan proses underwriting yang dilakukan secara digital, serta penerapan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit.
Eri menjelaskan bahwa upaya untuk mendorong kredit segmen konsumer dan UMKM merupakan hasil keputusan yang telah didiskusikan bersama pemegang saham pengendali. Di tengah kondisi yang masih menantang, perseroan memilih untuk berfokus pada segmen ritel yang menjadi keunggulan perseroan dalam menganalisis dan menyeleksi nasabah.
Sementara dari sisi pendanaan, total dana pihak ketiga (DPK) Bank Neo Commerce tercatat sebesar Rp12,30 triliun per akhir Juni 2026, turun 7,74 persen (yoy). Namun, dana tabungan tumbuh 2,10 persen (yoy) menjadi Rp3,39 triliun.
Seiring penurunan komponen deposito yang lebih besar dibandingkan dana murah, rasio current account saving account (CASA) meningkat menjadi 32,21 persen pada Juni 2026 dari 30,09 persen pada Juni 2025.
Chief Financial Officer Bank Neo Commerce Sufen Triantio menjelaskan bahwa perseroan terus mengevaluasi suku bunga deposito dan telah beberapa kali menurunkannya. Langkah tersebut mendorong penurunan biaya dana (cost of fund) pada semester I 2026.
“Ketika yield bank naik dan cost of fund turun, business model tersebut akan terus kita pertahankan," kata Sufen.
Ia menambahkan bahwa perseroan juga terus memperluas produk wealth management dan layanan transaksi, termasuk QRIS, untuk meningkatkan penghimpunan dana murah dari nasabah yang tidak terlalu sensitif terhadap tingkat suku bunga (rate sensitive).
Dari sisi pendapatan, pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) tercatat sebesar Rp1,11 triliun, sementara pendapatan berbasis komisi (fee based income) meningkat menjadi Rp59,66 miliar, atau tumbuh 6,77 persen (yoy), menunjukkan semakin berkembangnya sumber pendapatan non-bunga perseroan.
Dari sisi produk, perseroan mencatat bahwa berbagai layanan kini semakin diminati masyarakat. Salah satunya layanan QRIS yang mengalami peningkatan signifikan jumlah transaksi sebesar 124 persen, dari 119,3 juta kali transaksi pada semester I 2025 menjadi 267,4 juta kali transaksi pada semester I 2026.
Sedangkan dari sisi pendapatan yang dihasilkan dari transaksi QRIS, terjadi lompatan peningkatan sebesar 246 persen menjadi Rp25,8 miliar pada akhir semester I 2026 dari sebelumnya Rp7,4 miliar pada semester I 2025.
Sementara itu, efisiensi operasional terus mengalami perbaikan. Rasio BOPO membaik menjadi 82,31 persen dibandingkan 84,81 persen pada semester I 2025, atau mengalami perbaikan sekitar 2,50 persen, mencerminkan efektivitas pengelolaan biaya operasional.
Rasio return on assets (ROA) juga meningkat menjadi 3,23 persen dari 3,09 persen, atau naik 0,14 persen (yoy), menunjukkan kemampuan perseroan menghasilkan laba dari aset yang dimiliki semakin baik.
Perseroan juga semakin memperkuat struktur permodalannya seiring dengan pertumbuhan laba bank. Rasio capital adequacy ratio (CAR) meningkat signifikan menjadi 50,23 persen, dibandingkan 41,27 persen pada semester I 2025 atau meningkat sekitar 8,95 persen (yoy).
Modal inti perseroan turut meningkat menjadi Rp4,20 triliun, tumbuh 14,52 persen (yoy). Penguatan permodalan tersebut memberikan ruang yang lebih besar bagi perseroan untuk mendukung ekspansi bisnis secara sehat dan berkelanjutan.
Baca juga: Laba bersih OCBC capai Rp2,7 triliun pada semester I-2026
Baca juga: Permata Bank catat laba bersih tumbuh 4,5 persen pada semester I-2026
Baca juga: Laba bersih bank bjb tumbuh 58,8 persen capai Rp783 M pada semester I
Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































