Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Benjamin Paulus Octavianus mengatakan langkah percepatan eliminasi tuberkulosis (TBC) melalui Cek Kesehatan Gratis (CKG) serta inovasi menjadi harapan dalam menghadapi penularan dan kematian akibat penyakit tersebut.
Wamenkes Benjamin di Jakarta, Selasa, mengatakan Indonesia mencatat lebih dari satu juta kasus TBC setiap tahunnya, yang menjadikannya sebagai salah satu negara dengan beban TBC tertinggi di dunia.
Karena itu pemerintah mendorong langkah cepat melalui deteksi dini masif, termasuk Program CKG dengan target menjangkau 130 juta masyarakat pada tahun 2026.
Selain itu harapan untuk mengeliminasi TBC, kata dia, tetap ada melalui inovasi, dengan lebih dari 100 alat diagnostik, 29 obat TBC, dan 18 kandidat vaksin yang sedang dikembangkan guna tindak lanjut.
Baca juga: Kemenkes-PKP kolaborasi renovasi 2.000 rumah pada 2026 guna cegah TBC
“Tuberkulosis masih menjadi tantangan besar. Ini bukan hanya masalah kesehatan, tetapi juga berkaitan dengan faktor sosial, ekonomi, gizi, dan lingkungan,” ujar Wamenkes Benjamin.
Dia mengatakan setiap menit, dua orang terinfeksi TBC dan setiap empat menit satu orang meninggal dunia di Indonesia. Oleh karena itu inisiatif juga diperkuat strategi lain, yakni pelacakan kontak erat, pemberian terapi pencegahan TBC, serta penguatan peran masyarakat dan kader kesehatan.
“Tidak ada waktu untuk menunda. Setiap kasus yang ditemukan dan diobati adalah langkah menyelamatkan nyawa,” kata Wamenkes Benjamin.
Baca juga: Wamendagri: Desa berperan strategis dalam eliminasi TBC di RI
Senada Perwakilan WHO Indonesia Setiawan Jati Laksono menilai perlunya dukungan global untuk terus diperkuat. Dia menyebutkan Indonesia menyumbang sekitar 10 persen dari total kasus TBC dunia.
Data menunjukkan pada 2024 terdapat sekitar 118.000 kematian akibat TBC pada orang tanpa HIV dan 8.100 kematian pada orang dengan HIV di Indonesia.
“TBC masih menjadi ancaman global. Ada kemajuan, tetapi belum cukup cepat. Komitmen politik dan pendanaan nasional sangat menentukan,” katanya.
WHO juga menyoroti tantangan besar, seperti kasus yang belum terdiagnosis, TBC resistan obat, serta faktor risiko seperti malnutrisi, diabetes, dan kebiasaan merokok.
Baca juga: Pasien TBC disarankan tetap konsumsi obat meski alami efek ringan
Pewarta: Mecca Yumna Ning Prisie
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































