Jakarta (ANTARA) - Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) mendukung penuh penerapan teknologi energi terbarukan di sektor akuakultur guna memperkuat efisiensi dan daya saing budidaya tambak udang nasional.
Direktur Jenderal Pembangunan Daerah Tertinggal Kemendes PDTT Samsul Widodo dalam keterangan di Jakarta, Jumat, mengatakan bahwa budidaya tambak udang merupakan sektor unggulan yang menghasilkan komoditas ekspor bernilai tinggi sehingga membutuhkan modernisasi teknologi.
"Pemerintah mendukung program renewable energy yang diterapkan di semua sektor, termasuk sektor akuakultur. Selain memanfaatkan dana desa, pelaksanaan program ini juga bisa berkolaborasi dengan pihak swasta melalui CSR," kata dia.
Penerapan energi bersih tersebut diwujudkan melalui inisiatif Aquaculture for Climate Resilience dengan pendekatan Climate Resilience Farmers Field School (CRFSS) yang mengombinasikan pelatihan kapasitas petambak serta penerapan teknologi cerdas iklim.
Baca juga: KP2MI, Kemendes PDTT sinergikan program Desa Migran Emas, Desa Tematik
Program kemitraan strategis bersama P4G Crustea--su-re.co tersebut menyasar sedikitnya 250 petambak udang dan penyuluh perikanan di empat wilayah Kabupaten Lombok dan Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.
Inovasi yang diperkenalkan meliputi penggunaan Eco-Aerator bertenaga surya serta sistem pemantauan berbasis Internet of Things (IoT) untuk menekan biaya operasional, mengurangi emisi gas rumah kaca, dan meningkatkan produktivitas.
Peneliti PT Sustainability & Resilience (su-re.co) Naafi Lathifah menjelaskan pemanfaatan panel surya sistem hibrida mampu menghemat konsumsi listrik PLN untuk aerasi tambak hingga 42 - 50 persen berdasarkan proyek percontohan di Gianyar, Bali.
Sistem panel surya yang terintegrasi dengan jaringan PLN dan baterai tersebut dilaporkan terbukti mampu menyuplai kebutuhan daya aerator selama 10 jam per hari secara andal dan efisien.
"Percontohan di Gianyar, penggunaan panel surya mampu menyuplai kebutuhan listrik aerator selama sekitar 10 jam per hari. Hasil sementara menunjukkan penggunaan solar panel mampu menghemat konsumsi listrik PLN sekitar 42 hingga 50 persen," kata Naafi.
Dia mengungkapkan bahwa selanjutnya program ini akan memperluas jangkauan implementasi teknologi kincir air tenaga surya hingga ke 10 lokasi budidaya di Nusa Tenggara Barat. Maka melalui pendekatan pentahelix yang melibatkan pemerintah, swasta, akademisi, dan masyarakat, kolaborasi ini diharapkan mampu menghasilkan rekomendasi kebijakan guna mempercepat transisi energi bersih di wilayah perdesaan.
Baca juga: Kemendes berkomitmen terus tingkatkan kapasitas pendamping desa
Baca juga: Kemenag teken MoU dengan Kemendes PDTT soal pengembangan ekonomi umat
Pewarta: M. Riezko Bima Elko Prasetyo
Editor: Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































