Aghniny Haque jajal syuting di kompleks Iskandar Malaysia Studios

2 weeks ago 11

Jakarta (ANTARA) - Aktris Indonesia Aghniny Haque dan Hesti Putri membagikan pengalaman menjajal proses syuting film "Bisikan Desa Gringsing" di kompleks Iskandar Malaysia Studios, Johor, Malaysia yang menghadirkan berbagai set tematik nan canggih untuk mendukung berbagai kebutuhan produksi film.

Aghniny mengatakan pengalaman berada di kompleks studio tersebut membuat harapannya meninggi untuk suatu hari nanti bisa terlibat dalam film Hollywood, karena lingkungan, alat-alat hingga fasilitas yang tersedia dalam studio itu sangat modern.

"Waktu nyampe situ ya seru banget sih, kayak rasanya lagi syuting di New York," ujar Aghniny saat ditemui di ANTARA Heritage Center, Pasar Baru, Jakarta, Senin.

Baca juga: Teknologi virtual production rambah film horor Indonesia di Cannes

Selama menjalani syuting, para pemeran berkesempatan melihat berbagai area studio yang menyediakan set dengan konsep tematik, mulai dari lingkungan berlatar alam, arsitektur khas Eropa, kawasan bernuansa Tiongkok, hingga perdesaan Indonesia dapat dihadirkan di sana.

"Jadi untuk set film ini seperti yang ada di Subang (Jawa Barat), itu dihadirkan di Johor. Karena kita di Johor dulu ya, baru di riil set Subang," kata Aghniny.

Aghniny mengatakan suasana di lokasi syuting juga terasa multibahasa karena produksi melibatkan kru dari Indonesia, Singapura, dan Malaysia.

Baca juga: Aktris Hesti Putri ternyata pernah jadi pengibar bendera pusaka

"Ada orang berbahasa Inggris, ada orang yang ngomong pakai bahasa Mandarin, terus ada orang yang ngomong pakai bahasa Indonesia, ada orang yang ngomong pakai bahasa India," tuturnya.

Selain lingkungan produksi yang modern, para pemeran juga menyoroti perbedaan sistem kerja yang diterapkan selama produksi film "Bisikan Desa Gringsing" di studio tersebut.

Hesti Putri mengatakan waktu produksi diatur selama delapan jam, sehingga durasi syuting harus dimanfaatkan secara efektif.

Baca juga: Pelangi di Mars wujud keberanian sineas eksplorasi genre dan teknologi

"Kita delapan jam syuting, harus benar-benar delapan jam syuting, selesai," kata Hesti merujuk pada aturan jam kerja di studio yang tidak memotong waktu istirahat, shalat, dan makan secara khusus dari durasi jam kerja utama seperti saat syuting di Indonesia.

Kondisi studio yang memiliki suhu cukup dingin juga menjadi pengalaman penyesuaian tersendiri bagi para pemeran.

Hesti mengatakan suhu tersebut membuat proses produksi di dalam studio terasa nyaman, sebelum mereka berpindah ke lokasi syuting riil di Subang, Jawa Barat.

Baca juga: Messi Gusti ceritakan pengalaman syuting dengan teknologi XR

"Syuting tuh dingin di studio, jadi waktu di Indonesia enggak kaget lagi," kata Hesti.

Film yang disutradarai oleh Ivander Tedjasukmana, dan menjadi film horor misteri pertama yang difilmkan menggunakan teknologi produksi virtual (virtual production), di mana para pemain bekerja di depan dinding LED beresolusi tinggi yang besar yang menampilkan lingkungan fotorealistik sebagai latar adegan secara langsung.

Aktris Aghniny Haque berperan sebagai Hesti, Fatmah Nahdi sebagai Fatimah, serta Hesti Putri sebagai Melati berkunjung ke ANTARA Heritage Center untuk mempromosikan film "Bisikan Desa Gringsing" yang dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia pada 24 September 2026.

Baca juga: Menbud: Teknologi XR mampu perkuat ekosistem perfilman nasional

Pewarta: Abdu Faisal
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |