Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mendorong penguatan pelindungan konsumen digital melalui kerja sama dengan pelaku industri dan pengembangan sistem anti-scam di sektor telekomunikasi dan layanan digital guna menghadapi meningkatnya ancaman penipuan digital.
Nezar Patria menyoroti meningkatnya ancaman penipuan digital di Indonesia dengan kerugian mencapai sekitar Rp7,5 triliun.
“Angka scam naik terus. Kemarin total kerugian akibat spam dan scam mencapai Rp7,5 triliun berdasarkan laporan dari Global Anti-Scam Alliance,” kata Nezar dalam keterangan yang dikonfirmasi di Jakarta, Rabu.
Menurutnya, hal tersebut memprihatinkan terlebih bagi para lansia yang rentan terkena scam yang menggunakan teknologi kecerdasan artifisial (AI).
“Para lansia kasihan. Banyak sekali yang kena scam dan spam. Scam yang paling bahaya dengan menelepon sebagai orang lain. Sekarang makin canggih karena bisa meniru suara orang bahkan meniru suara-suara pejabat pakai AI. Dia ketik teksnya, terus tinggal diputar ulang,” kata Nezar.
Baca juga: Wamenkomdigi ungkap literasi digital cara baru penting hadapi era AI
Menanggapi angka scam yang meningkat, pemerintah Indonesia mendorong seluruh perusahaan telekomunikasi untuk mengimplementasikan fitur anti-scam agar dapat melindungi para konsumen.
“Pemerintah mendorong agar seluruh perusahaan telekomunikasi melindungi para konsumen dengan mengimplementasikan fitur anti-scam, baik dalam bentuk aplikasi atau bentuk lain,” lanjutnya.
Nezar mengatakan para perusahaan telekomunikasi dapat melakukan asesmen mandiri untuk memilih langkah implementasi yang sesuai dengan model bisnis masing-masing.
Dalam kesempatan yang berbeda, Nezar mengatakan penyalahgunaan kecerdasan buatan (AI) melalui teknologi "deepfake" menjadi salah satu tantangan etis dan keamanan digital yang perlu diantisipasi secara serius karena berpotensi meningkatkan ancaman penipuan digital.
Teknologi "deepfake" memungkinkan pembuatan video, gambar, maupun suara palsu yang menyerupai aslinya sehingga semakin sulit dibedakan dari kenyataan.
"Sekarang suara kita bisa ditiru, gambar wajah kita bisa ditiru, dan tampil dalam bentuk 'deepfake' video yang dihasilkan oleh AI dengan sangat mulus," kata Nezar dalam acara Indonesia Ethical AI Summit di Jakarta.
Menurut Nezar, perkembangan kecerdasan buatan saat ini berlangsung sangat cepat, bahkan telah melampaui fase kecerdasan buatan generatif (generative AI) menuju kecerdasan buatan otonom (agentic AI) dan berbagai teknologi baru lainnya.
Perkembangan tersebut membawa manfaat besar bagi berbagai sektor, tetapi pada saat yang sama juga memunculkan risiko-risiko baru yang memerlukan perhatian serius.
Baca juga: Wamenkomdigi: Kolaborasi jadi kunci capai kemandirian teknologi 2045
Baca juga: Wamenkomdigi nilai "deepfake" tingkatkan ancaman penipuan digital
Baca juga: Wamenkomdigi sebut aturan AI diusulkan dalam bentuk undang-undang
Pewarta: Farhan Arda Nugraha
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































