Vance ungkap alasan MoU AS-Iran belum dipublikasikan

5 hours ago 3

Washington (ANTARA) - Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan nota kesepahaman (MoU) antara Amerika Serikat dan Iran belum dipublikasikan karena masih ada sejumlah detail teknis yang perlu diselesaikan.

"Ada beberapa detail teknis yang perlu diselesaikan, yang tidak berkaitan dengan isi MoU itu sendiri, melainkan dengan pelaksanaannya," kata Vance kepada NBC News, seperti dilansir RIA Novosti pada Selasa (16/6).

Ia menambahkan Qatar dan Pakistan telah banyak membantu dalam memfasilitasi kesepakatan tersebut.

AS ingin Iran memperoleh manfaat jika mematuhi ketentuan yang telah disepakati dalam perjanjian itu, katanya.

"Jika Iran mematuhi ketentuan dalam kesepakatan tersebut, maka manfaat akan mengalir kepada mereka dan itulah yang kami harapkan," kata Vance.

Ia mengatakan dirinya ingin melihat Iran menjadi negara yang sukses dan bertindak layaknya negara normal.

"Namun, hal itu hanya akan terjadi jika mereka melakukan hal-hal yang diperlukan untuk berkomitmen dalam jangka panjang agar tidak mengembangkan senjata nuklir," ujarnya.

Baca juga: Trump perkirakan Selat Hormuz dibuka sepenuhnya pada Jumat

Vance mengatakan salah satu poin utama dalam MoU tersebut adalah bantuan dari AS dan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) untuk memusnahkan stok uranium yang diperkaya milik Iran.

"Faktanya, salah satu bagian inti dari kesepakatan tersebut adalah bahwa IAEA dan Amerika Serikat akan membantu Iran menghancurkan persediaan uranium yang sangat diperkaya, dan hal itu dijelaskan dengan sangat jelas," ujarnya.

Ia juga mengatakan para inspektur nuklir akan diizinkan kembali ke Iran.

Pada Minggu, Presiden AS Donald Trump dan Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengonfirmasi bahwa nota kesepahaman tersebut telah difinalisasi.

Dokumen itu dijadwalkan ditandatangani secara resmi di Swiss pada 19 Juni setelah kedua negara lebih dulu menandatanganinya secara digital pada Minggu.

Sumber: Sputnik

Baca juga: AS pastikan Iran dapat Rp5 kuadriliun jika sepakat berdamai
Baca juga: Presiden: Iran siap hadapi berbagai skenario setelah sepakat dengan AS

Penerjemah: Fransiska Ninditya
Editor: Anton Santoso
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |