Makkah (ANTARA) - Bayang-bayang menara raksasa mulai memanjang, kala kumandang azan memecah udara Kota Makkah.
Di pelataran tawaf Masjidil Haram, lautan manusia tidak hanya menengadahkan tangan untuk berdoa, tetapi juga menantikan sebuah prosesi sakral yang perlahan mulai tergelar di hadapan mereka.
Sejak sore, sebuah persiapan agung telah dimulai. Para petugas dengan seragam khusus tampak mulai bekerja di sekitar bangunan suci berbentuk kubus tersebut. Beberapa di antara mereka, bahkan telah bersiap dan memosisikan diri di atas atap Ka'bah.
Mereka adalah tim ahli pilihan dari otoritas Masjidil Haram yang mengemban tugas sangat mulia, yakni melepaskan kain lama dan memakaikan jubah yang baru untuk pusat kiblat umat Islam sedunia itu.
Berada di sana dan menyaksikan prosesi tersebut secara langsung menghadirkan pengalaman spiritual yang sangat mendalam.
Waktu seolah berjalan lebih lambat. Dari pergantian sore menuju temaramnya Maghrib, lalu disambut gelapnya malam Isya, para petugas bekerja dengan sangat terstruktur, berhati-hati, dan penuh penghormatan.
Mereka secara perlahan mulai melepaskan ikatan demi ikatan yang menahan kiswah lama, bersiap untuk sebuah transisi yang menandai pergantian waktu dalam kalender Hijriah.
Puncaknya terjadi menjelang tengah malam. Di bawah cahaya lampu benderang Masjidil Haram yang menyorot tajam, kiswah baru mulai dinaikkan, sementara kiswah yang lama diturunkan secara bersamaan di keempat sisi Ka'bah.
Kain sutra hitam pekat yang baru itu ditarik ke atas bagaikan tirai malam yang menyelimuti Baitullah, memancarkan kilau keemasan dari sulaman kaligrafi saat tertimpa cahaya.
Ratusan ribu pasang mata menatap takjub, bibir-bibir tak henti melantunkan talbiyah dan selawat, menyambut datangnya 1 Muharram dengan rasa haru yang sulit dilukiskan dengan kata-kata.
Pergantian kiswah pada hakikatnya bukan sekadar rutinitas seremonial yang memanjakan mata, melainkan sebuah peristiwa yang sarat akan makna mendalam.
Tradisi mengganti kiswah pada 1 Muharram menjadi simbolisasi yang kuat bagi umat Islam di seluruh dunia.
Momen spiritual tersebut dipandang sebagai penanda lahirnya semangat baru, sekaligus proses pencucian diri menyambut pergantian tahun.
Dalam kacamata keagamaan, Ka'bah yang mengenakan balutan kain baru di awal tahun seolah mengajak seluruh umat Islam untuk turut menanggalkan beban masa lalu dan kesalahan yang pernah diperbuat.
Editor: Masuki M. Astro
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































