Jakarta (ANTARA) - Universitas Aufa Royhan, Padang, Sumatera Barat, mengirimkan tim pengabdian untuk membantu korban bencana banjir dan tanah longsor di Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.
"Pengabdian ini bukan hanya soal bantuan darurat, tetapi bagaimana kita hadir, bertanggung jawab, dan membangun kembali ketahanan masyarakat secara bersama-sama. Kami ingin kampus benar-benar turun ke lapangan, bekerja bersama pemerintah desa dan warga, agar pemulihan berjalan bermartabat dan berkelanjutan," kata Ketua Tim Pengabdian Masyarakat sekaligus Rektor Universitas Aufa Royhan Anto J. Hadi dalam keterangan resmi di Jakarta, Kamis.
Pengiriman tim tersebut termasuk dalam program pengabdian kepada masyarakat tanggap darurat bencana, sebuah inisiatif kemanusiaan berkat dukungan hibah dari Direktorat Penelitian Dan Pengabdian Kepada Masyarakat Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, Dan Teknologi (Kemdiktisaintek).
Baca juga: Di posko pengungsi Tapsel, Prabowo: Selamat tahun baru 2026
Tim pengabdian masyarakat mendirikan posko layanan kesehatan, gizi, psikososial, serta Water, Sanitation, and Hygiene (WASH) untuk menjawab kebutuhan paling mendesak para penyintas, mulai dari pelayanan medis, pemenuhan pangan, hingga penyediaan air bersih.
Pihak universitas menegaskan kehadiran perguruan tinggi di tengah masyarakat saat bencana bukan sekadar simbol empati, melainkan wujud nyata pengabdian dan komitmen kemanusiaan untuk membantu masyarakat bangkit dan memulihkan kehidupan pascabencana.
Di titik-titik pengungsian, dapur umum berbasis pangan lokal diaktifkan sebagai penopang utama kebutuhan dasar para penyintas.
Baca juga: Korban bencana Sumatera dapat bantuan lauk-pauk Rp15 ribu per hari
Menu makanan cepat bergizi disiapkan dari bahan yang akrab dengan masyarakat, seperti ubi, jagung, dan telur, disertai penyaluran paket sembako dengan prioritas bagi kelompok rentan, yakni balita, ibu hamil, dan lansia.
"Bersamaan dengan itu tim lapangan juga menyalurkan berbagai kebutuhan pendukung, mulai dari hygiene kits, alat kebersihan, tenda pengungsi, peralatan masak, hingga sarana penunjang air bersih seperti tandon, ember, genset, serta pompa air. Di sektor kesehatan, skrining rutin dan layanan pengobatan terus dilakukan guna mencegah munculnya penyakit pasca-banjir, seperti diare dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA)," ujar Anto.
Menurutnya, sinergi lintas elemen ini menegaskan bahwa di tengah keterbatasan akibat bencana, kekuatan solidaritas dan kepedulian sosial justru tumbuh semakin kokoh, menjadi fondasi penting bagi pemulihan dan harapan masyarakat terdampak.
Baca juga: Baznas RI salurkan bantuan untuk 116 ribu korban bencana Sumatera
Pewarta: Lintang Budiyanti Prameswari
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































