Jakarta (ANTARA) -
Pada 28 Februari 2026, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangkaian serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di Teheran, hingga mengakibatkan kerusakan dan korban sipil.
Tidak hanya warga biasa, Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei pun menjadi salah satu yang gugur dalam rangkaian serangan itu, seperti dikonfirmasi oleh televisi pemerintah Iran.
Iran kemudian meluncurkan serangan rudal balasan ke wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah. Bahkan, sejumlah bandara internasional di kawasan itu ikut terdampak serangan.
Dalam hitungan jam setelah eskalasi konflik antara Iran dan koalisi AS-Israel, sebagian besar negara-negara Timur Tengah pun menutup wilayah udaranya.
Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, Irak, Oman, dan Kuwait termasuk di antara negara yang membatasi atau menutup operasional ruang udara setelah serangan rudal dan drone terjadi di kawasan tersebut.
Selanjutnya, Iran juga menempuh langkah lainnya dengan menutup Selat Hormuz. Seorang komandan senior dari Garda Revolusi Iran pada Senin (2/3) mengatakan Selat Hormuz telah ditutup dan memperingatkan bahwa setiap kapal yang mencoba melintasi jalur air tersebut akan menjadi sasaran.
Alhasil, konflik pascaserangan Israel-AS ke Iran yang meluas ke seluruh kawasan Timur Tengah itu bukan hanya mengakibatkan korban jiwa yang terus bertambah, tetapi juga berpotensi mengganggu perekonomian global.
Wilayah udara di sebagian besar Timur Tengah yang tidak dapat dilalui untuk penerbangan sipil tentu mengganggu lajunya aktivitas ekonomi dan sosial.
Selain itu, banyak negara mulai merasakan dampak ekonomi dari meningkatnya serangan udara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, ketika kapal-kapal tanker minyak masih tertahan di sekitar Selat Hormuz, salah satu koridor energi paling vital di dunia.
Beberapa operator pelayaran menghentikan transit melalui selat tersebut di tengah melonjaknya biaya asuransi dan meningkatnya kekhawatiran keamanan.
Segala dampak buruk yang ditimbulkan dari konflik tersebut membuat negara-negara di seluruh kawasan di dunia mendorong, bahkan menekan, pihak-pihak yang berkonflik untuk segera menurunkan ketegangan dan menahan diri.
Respons ASEAN
Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































