Palangka Raya (ANTARA) - Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menyatakan Program D1 Vokasi gagasan Pemprov Kalimantan Tengah (Kalteng) dinilai sukses menyelaraskan kompetensi tenaga kerja dengan kebutuhan industri (mismatch).
"Program D1 vokasi bidang pertanian, perikanan dan peternakan ini merupakan langkah strategis yang selaras dengan potensi unggulan Kalimantan Tengah di sektor sumber daya alam dan agro industri," kata Deputi Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Kementerian PPN)/Bappenas Pungkas Bahjuri Ali di Palangka Raya, Kamis.
Hal itu dia sampaikan di sela peluncuran program strategis sektor pendidikan oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah yang meliputi pemberian seragam gratis, beasiswa serta lainnya.
Bahjuri menyebut pendidikan vokasi ini sangat relevan dengan potensi lokal atau daerah sehingga mampu serta efektif dalam mengurangi mismatch tenaga kerja di lapangan.
"Kemudian juga meningkatkan prioritas sektor riil dan memperkuat hilirisasi komoditas unggulan daerah," ujarnya.
Menurutnya langkah ini merupakan kebijakan strategis dari Gubernur Kalteng Agustiar Sabran yang selaras dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.
"Ini adalah esensi dari transformasi pendidikan. Pendidikan vokasi tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi menghasilkan tenaga terampil," jelasnya.
Adapun salah satu mitra Pemprov Kalteng dalam implementasi D1 Vokasi ini adalah Universitas Muhammadiyah Palangka Raya dengan kuota peserta didik mencapai ribuan orang.
Dalam pelaksanaan sistem pembelajarannya, D1 Vokasi ini meliputi 30 persen teori serta 70 persen praktik kerja.
Gubernur Kalteng Agustiar Sabran mengatakan ini menjadi momentum penting dalam memperkuat sinergi dan kolaborasi untuk meningkatkan mutu pendidikan yang merata dan berkeadilan.
"Karena pendidikan itu fondasi sekaligus investasi, pilar utama mewujudkan visi misi kami. Pendidikan akan memutus mata rantai kemiskinan, kebodohan serta keterisolasian," jelasnya.
Pewarta: Muhammad Arif Hidayat
Editor: Wuryanti Puspitasari
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































