Ukuran celana bisa jadi alarm dini obesitas

1 week ago 3

Jakarta (ANTARA) -

Ukuran celana ternyata bisa menjadi tanda sederhana untuk mendeteksi risiko obesitas sentral yang kian meningkat di Indonesia.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid. mengatakan obesitas sentral dapat dikenali dari lingkar perut, bukan hanya angka timbangan.

“Kalau kita bicara obesitas sentral, paling mudah dilihat dari ukuran celana. Kalau ukurannya makin naik, itu alarm untuk kita,” kata Nadia dalam acara Nutrifood Media Briefing bertajuk Cermat Memilih Pangan Olahan untuk Mencegah Obesitas di Jakarta Pusat, Selasa.

Baca juga: Kemenkes imbau masyarakat bijak pilih menu berbuka puasa Ramadhan

Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia 2023, prevalensi obesitas sentral meningkat dari 31 persen pada 2018 menjadi 36,8 persen pada 2023. Indikatornya adalah lingkar perut lebih dari 90 sentimeter pada laki-laki dan lebih dari 80 sentimeter pada perempuan.

Data program Cek Kesehatan Gratis 2025 juga menunjukkan 23,85 persen peserta dewasa teridentifikasi mengalami obesitas sentral berdasarkan pengukuran lingkar perut.

Dalam acara untuk memperingati Hari Obesitas Sedunia itu, Nadia menyampaikan obesitas sentral berisiko tinggi memicu berbagai penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes, penyakit jantung, dan stroke.

Baca juga: Pendekatan medis semaglutide dinilai bantu kendalikan obesitas

Ia menilai banyak orang merasa sehat karena berat badan terlihat normal, padahal distribusi lemak di area perut dapat meningkatkan risiko kesehatan.

“Kadang orang merasa tidak gemuk, tapi lingkar perutnya sudah di atas batas. Itu yang sering tidak disadari,” ujarnya.

Untuk mencegah obesitas sentral, ia menganjurkan masyarakat rutin memantau lingkar perut dan indeks massa tubuh minimal setahun sekali, serta menjaga pola makan dan aktivitas fisik.

Baca juga: Ahli ingatkan risiko obesitas picu kompleksitas pengendalian kadar LDL

“Perubahan kecil seperti mengurangi gula, garam, dan lemak serta rutin bergerak bisa membantu menurunkan risiko,” katanya.

Ia mengingatkan obesitas tidak terjadi dalam waktu singkat, melainkan akibat pola konsumsi dan gaya hidup yang berlangsung lama, sehingga deteksi dan perubahan perilaku perlu dilakukan sejak dini.

Baca juga: Diet pembatasan kalori bantu otak dan usus batasi asupan makanan

Pewarta: Farika Nur Khotimah
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |