Jakarta (ANTARA) - Setiap harinya, jutaan orang berbagi ruang yang sama di dalam transportasi umum mulai dari bus, kereta, angkot, maupun moda lainnya demi mencapai tujuan masing-masing.
Namun, di balik fungsinya yang praktis dan efisien, transportasi umum juga kerap menjadi ruang yang dapat mengancam keamanan dan kenyamanan penggunanya.
Padatnya penumpang, keterbatasan ruang gerak, dan minimnya pengawasan ketat berpotensi menciptakan situasi yang dapat disalahgunakan oleh berbagai pihak tidak bertanggung jawab.
Pelecehan seksual merupakan salah satu kasus yang paling sering terjadi di transportasi umum. Sudah tidak terhitung jumlah penumpang—baik perempuan, laki-laki, dewasa maupun anak kecil—yang menjadi korban dari berbagai bentuk dan modus pelecehan di transportasi umum.
Oleh karena itu, penting bagi para pengguna transportasi umum tersebut untuk mengetahui dan memahami langkah-langkah pencegahan pelecehan seksual.
Dengan kesadaran dan pengetahuan tersebut, diharapkan potensi risiko yang ada dapat diminimalkan.
1. Gunakan gerbong khusus wanita
Bagi wanita, disarankan untuk memanfaatkan gerbong khusus wanita di kereta atau area khusus wanita yang tersedia di bus guna mengurangi risiko tindakan yang tidak diinginkan.
Namun, perlu diingat bahwa keberadaan gerbong atau area khusus wanita tidak sepenuhnya menghilangkan risiko. Sebab, tindakan pelecehan tetap dapat terjadi, termasuk yang dilakukan oleh sesama wanita.
2. Tetap waspada
Saat berada di transportasi umum, usahakan untuk tetap waspada sekitar dan sebisa mungkin hindari tidur atau lengah selama perjalanan.
Sesekali, perhatikan orang-orang di sekitar, terutama jika ada gerak-gerik yang mencurigakan. Segera menjauh dan berpindah tempat apabila merasa ada hal yang tidak beres, serta laporkan kepada petugas terdekat agar dapat diperiksa atau ditindaklanjuti.
3. Membawa alat pertahanan diri
Selain sebagai langkah pencegahan, membawa alat pertahan diri dapat pula membantu meningkatkan rasa aman saat berada di transportasi umum.
Beberapa alat pertahanan yang bisa dibawa antara lain adalah parfum, semprotan merica—atau semprotan lain yang jika terkena mata bisa menyebabkan rasa sakit dan tak nyaman–, alarm kecil, dan benda legal lainnya yang dapat dengan mudah digunakan dan bisa membantu menarik perhatian sekitar jika terjadi situasi darurat.
Pastikan alat-alat tersebut digunakan untuk melindungi diri, bukan untuk memancing konflik.
4. Perhatikan posisi duduk dan berdiri
Saat duduk, usahakan untuk menjaga posisi kaki tetap tertutup rapat dan terlindungi oleh tas atau barang bawaan lainnya untuk mengurangi risiko pelecehan seksual.
Ketika berdiri, sebisa mungkin posisikan tubuh menghadap ke arah ruang gerak yang lebih luas, serta manfaatkan tas sebagai pelindung di bagian depan tubuh.
5. Bersikap tegas
Jika merasa mengalami pelecehan atau menyaksikan tindakan mencurigakan, jangan ragu untuk bersikap tegas dengan menegur pelaku. Bicaralah dengan suara lantang atau meminta bantuan orang-orang disekitar untuk menarik perhatian.
Selain itu, jika memungkinkan, dokumentasikan pelaku sebagai bahan bukti apabila diperlukan.
Baca juga: Ayo naik transportasi umum, tak ada kantong parkir di Bundaran HI saat tahun baru
Baca juga: Transportasi publik Jakarta: antara ekspansi layanan dan integrasi
Baca juga: 43 persen belanja daerah DKI dialokasikan untuk infrastruktur publik
Pewarta: Nadine Laysa Amalia
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































