Taiyuan (ANTARA) - Saat pagi pada hari ke-16 dalam bulan pertama kalender lunar China, Desa Xiadongzhai di Provinsi Shanxi, China utara, diliputi suasana meriah. Lapisan abu tungku yang tebal telah ditebar di sepanjang jalan bebatuan berumur ratusan tahun, menandai ajang pacuan kuda tradisional akan dimulai.
Berlokasi di Niangziguan di wilayah Pingding, Kota Yangquan, Xiadongzhai memiliki sejarah hampir 2.000 tahun dan diakui sebagai desa sejarah dan budaya China. "Tradisi Pacuan Kuda Festival Musim Semi Niangziguan" telah dicantumkan sebagai warisan budaya takbenda tingkat nasional di China.
Sejak pagi hari, para wisatawan telah berjejer di kedua sisi jalan kuno selebar empat meter tersebut. Pada pukul 08.30 waktu setempat, diiringi suara tabuhan gong yang bertalu-talu, beberapa penunggang memacu kudanya melewati kerumunan penonton.
Menunggang tanpa pelana atau sanggurdi, mereka menstabilkan posisi tubuh dengan menjepit erat kuda menggunakan kedua kaki mereka, memukau para penonton saat suara tabuhan drum, derap langkah kuda, dan sorak sorai bergema di seluruh desa tersebut.
Memimpin prosesi itu adalah sosok simbolis yang disebut "pembawa pesan", yang dipandang sebagai jiwa dalam perhelatan tersebut.
Dong, pengendara truk yang telah berpartisipasi di ajang itu selama lebih dari tiga dekade, pulang ke desa tersebut beberapa hari sebelumnya untuk melakukan persiapan.
"Peran ini memiliki tanggung jawab yang besar dan berkah yang luar biasa. Saya merasa terhormat dapat mewariskannya," ujarnya.
Usai memperoleh gelar magister dari Universitas Chongqing, Yuan kini bekerja di Taiyuan. Dia mengambil cuti selama dua hari untuk pulang dan berpartisipasi dalam ajang itu.
Meski telah meninggalkan kampung halamannya sejak usia 12 tahun, tradisi pacuan kuda itu tetap membekas kuat dalam ingatan Yuan.
Meski asal-usul tradisi tertentu masih belum jelas sepenuhnya, para ahli setempat yakin praktik itu mencerminkan budaya lintas perbatasan dan pos-pos kurir pada masa lampau.
Seiring perubahan sosial, semakin banyak warga Desa Xiadongzhai meninggalkan kampung halaman mereka. Namun, pada hari ke-16 bulan pertama dalam kalender lunar China setiap tahunnya, warga desa pulang, para kerabat berkumpul, dan jalan-jalan serta lorong dipenuhi suasana semarak.
"Aktivitas pacuan kuda ini membantu menyatukan warga desa dan memperkuat kohesi," ujar Ma Zhanfei, pejabat di Pusat Kebudayaan Yangquan.
Dengan dukungan yang kuat dari pemerintah di berbagai tingkatan dan departemen terkait, kemajuan yang signifikan berhasil ditorehkan dalam pengumpulan bahan-bahan sejarah, penciptaan arsip digital, peningkatan peralatan, renovasi pusat pelatihan, dan penerbitan buku terkait. Melalui penyediaan asuransi bagi para penunggang dan peningkatan jumlah personel keamanan, ajang itu berlangsung dengan tata kelola yang lebih terstandar dan tertib.
"Ini mendebarkan dan mengasyikkan. Saya ingin pulang dan merasakannya kembali," ujar Yuan.
Mulai dari penunggang berusia 20-an tahun hingga mereka yang telah menginjak usia 70-an tahun, terlepas dari usia, berapa lama mereka telah meninggalkan kampung halaman, atau jadwal pekerjaan yang sibuk, lebih dari belasan partisipan kembali berkumpul setiap tahunnya untuk mengikuti ajang pacuan kuda tersebut. Tradisi Festival Musim Semi yang unik tersebut telah lama menyatu dalam jati diri Desa Xiadongzhai, menjadi ikatan budaya bersama sekaligus rumah spiritual.
Saat suara langkah kaki kuda menggema di sepanjang jalan bebatuan berwarna biru tersebut, perayaan Festival Musim Semi pun berakhir dengan penuh makna. Dengan membawa doa terbaik, warga desa kembali menjalani pekerjaan masing-masing, menyongsong tahun baru, menjalaninya laksana kuda yang berlari kencang.
Penerjemah: Xinhua
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































