Jakarta (ANTARA) - PT Bank SMBC Indonesia Tbk (SMBC Indonesia) mengantongi laba bersih konsolidasi yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp506 miliar pada 2025, turun 82 persen (year on year/yoy) dibandingkan tahun 2024 yang sebesar Rp2,8 triliun.
Direktur Utama SMBC Indonesia Henoch Munandar dalam keterangannya di Jakarta, Selasa, menjelaskan bahwa kinerja konsolidasi periode 2025 mencerminkan strategi perseroan yang berfokus pada fundamental bisnis yang didasari oleh tata kelola yang baik.
Secara konsolidasi, SMBC Indonesia memperkuat pencadangan kerugian penurunan nilai (CKPN), terutama di anak perusahaan, yaitu Grup OTO.
SMBC Indonesia menilai pencadangan tersebut merupakan respons yang bijaksana terhadap dinamika ekonomi pada tahun 2025, serta upaya perusahaan induk konglomerasi keuangan (PIKK) dalam menerapkan prinsip kehati-hatian dan menjaga permodalan tetap kokoh.
Baca juga: OJK: Penyaluran kredit bank capai Rp8.557 triliun pada Januari 2026
“Kenaikan CKPN secara konsolidasi merupakan upaya kita sebagai PIKK untuk senantiasa meningkatkan standar penerapan tata kelola perusahaan yang baik, serta menjaga kualitas aset dan ketahanan bank,” kata Henoch.
Adapun secara bank only, SMBC Indonesia sebagai bank saja membukukan laba bersih setelah pajak sebesar Rp1,5 triliun sepanjang 2025.
Sementara, anak usahanya yaitu BTPN Syariah (PT Bank BTPN Syariah Tbk), mencatatkan laba bersih konsolidasi sebesar Rp1.201 miliar pada 2025, tumbuh 13,2 persen yoy, dengan penyaluran pembiayaan mencapai Rp10,3 triliun atau tumbuh 2 persen yoy.
Pendapatan operasional konsolidasi SMBC Indonesia tercatat sebesar Rp18,4 triliun, meningkat 5,8 persen yoy.
Baca juga: Realisasi kredit Bank Mandiri tumbuh 15,62 persen pada Januari 2026
Sementara pendapatan bunga bersih tumbuh 4,6 persen yoy, dengan margin bunga bersih (net interest margin/NIM) terjaga di level 7,0 persen di tengah suku bunga kredit yang kompetitif, kenaikan biaya pendanaan, dan volatilitas pasar yang terus berjalan.
Per akhir Desember 2025, total aset SMBC Indonesia secara konsolidasi mencapai Rp245,9 triliun, tumbuh 2,0 persen secara yoy.
Di sisi kredit, SMBC Indonesia mencatat pertumbuhan secara konsolidasi sebesar 3,3 persen yoy menjadi Rp185,4 triliun pada akhir 2025.
Pertumbuhan kredit ini didorong oleh sejumlah segmen, seperti segmen korporasi dan komersial yang meningkat 6,5 persen yoy dan realisasi kredit Jenius di luar Digital Micro yang tumbuh 11,3 persen yoy.
Baca juga: BI: Kredit tumbuh 9,96 persen pada Januari, ditopang segmen investasi
Dari sisi pendanaan, nilai pendanaan berbasis dana murah (CASA) naik 16,7 persen yoy menjadi Rp53,2 triliun dan rasio CASA yang tumbuh menjadi 40,6 persen.
Secara konsolidasi, total dana pihak ketiga (DPK) SMBC Indonesia tumbuh 8,0 persen yoy menjadi Rp131,0 triliun pada akhir tahun lalu untuk menopang kebutuhan pendanaan tahun 2025.
SMBC Indonesia menjaga rasio likuiditas dan pendanaan di tingkat yang sehat, dengan liquidity coverage ratio (LCR) mencapai 229,4 persen dan net stable funding ratio (NSFR) 123,0 persen per 31 Desember 2025.
Menurut perseroan, kedua rasio tersebut juga merefleksikan upaya dalam menerapkan prinsip kehati-hatian untuk menjaga likuiditas dan permodalan tetap kuat.
Baca juga: BSI: Pembiayaan kendaraan tumbuh 19 persen capai Rp6,41 T pada 2025
Selanjutnya, rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) konsolidasi tercatat di angka 29,3 persen pada akhir tahun 2025.
Angka CAR tersebut di atas rata-rata industri 25,9 persen dan menunjukkan ruang untuk lebih mengembangkan bisnis dan melayani lebih banyak nasabah di berbagai segmen ke depannya.
Bank mencatatkan gross non-performing loan ratio secara konsolidasi berada di level 2,6 persen pada akhir Desember 2025, sedikit membaik dibandingkan 2,8 persen pada akhir September 2025. Menurut perseroan, perbaikan ini merupakan upaya untuk senantiasa menerapkan manajemen risiko yang sehat.
Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Abdul Hakim Muhiddin
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































