Bogor (ANTARA) - Bagi umat Muslim di Indonesia, Ramadhan adalah bulan ibadah, refleksi, dan penguatan solidaritas sosial. Namun di balik suasana religius itu, Ramadhan juga menjadi salah satu fase paling dinamis dalam siklus ekonomi tahunan nasional.
Aktivitas konsumsi meningkat signifikan, pasar-pasar rakyat ramai sejak siang hari, dan jutaan pelaku usaha kecil memanfaatkan momentum ini sebagai peluang untuk meningkatkan pendapatan serta memperbaiki kondisi ekonomi keluarga.
Secara makro, Ramadhan berkontribusi besar terhadap penguatan konsumsi domestik. Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Republik Indonesia (RI), konsumsi rumah tangga, yang menyumbang lebih dari 50 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), cenderung mengalami akselerasi pada kuartal pertama (Q1) dan kedua (Q2), bertepatan dengan periode Ramadhan dan Idul Fitri.
Konsumsi rumah tangga saat Ramadhan melonjak rata-rata 10 hingga 15 persen dibandingkan bulan biasa. Hal ini dipicu oleh budaya belanja baju baru, bahan pangan, hingga persiapan mudik. Pada momen ini, konsumsi rumah tangga menjadi faktor dominan yang menggerakkan pertumbuhan. Kenaikan konsumsi ini bersifat musiman, tetapi dampaknya nyata terhadap perputaran uang di tingkat akar rumput.
Di sebuah perumahan di Cibinong, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, misalnya, Dewi (47), yang sehari-hari menjual nasi dan lauk pauk, setiap Ramadhan memfokuskan bisnisnya untuk menjual kue. Menurut ibu rumah tangga ini, pendapatannya dari berjualan di bulan Ramadhan melebihi ekspektasi, jauh meningkat dibandingkan bulan-bulan biasa.
"Alhamdulillah, omzet saya di bulan Ramadan lebih besar daripada biasanya, bahkan di luar ekspektasi saya," ungkapnya kepada Xinhua di Bogor, Sabtu (28/2) lalu.
"Pesanan dan penjualan kue kering saya meningkat drastis, bisa naik sampai 100 persen. Pemesanan sudah dibuka sebelum Ramadan, dan di minggu kedua puasa, pemesanan saya tutup agar pengiriman ke konsumen tidak ada kendala," tutur Aniwati kepada Xinhua pada Minggu (1/3) di Bogor.
ANTARA/Xinhua
Hal senada disampaikan Suryaningsih (48), seorang ibu rumah tangga di Bogor, yang selama Ramadhan menerima pesanan penganan dan minuman untuk berbuka puasa, atau biasa disebut takjil.
Dia melihat Ramadhan sebagai peluang bagus bagi usahanya, karena di bulan ini banyak orang yang memesan takjil dalam jumlah besar untuk dibagi-bagikan.
"Alhamdulillah, pendapatan yang saya terima lebih dari cukup. Peningkatannya lumayan, karena banyak pesanan dalam jumlah besar," ujar Suryaningsih saat ditemui Xinhua di kediamannya yang berada di Bogor pada Minggu (1/3).
Hal ini juga dirasakan oleh Aniwati (45) yang selama Ramadhan menjalankan usahareseller aneka kue kering untuk Lebaran. Ibu rumah tangga yang sehari-sehari berprofesi sebagai fisioterapis ini mengaku Ramadhan sebagai momen "emas" karena banyak orang mencari dan membutuhkan sajian kue kering untuk hamper sebagai persiapan Lebaran.
"Pesanan dan penjualan kue kering saya meningkat drastis, bisa naik sampai 100 persen. Pemesanan sudah dibuka sebelum Ramadhan, dan di minggu kedua puasa, pemesanan saya tutup agar pengiriman ke konsumen tidak ada kendala," tutur Aniwati kepada Xinhua pada Minggu (1/3) di Bogor.
Bazar Ramadhan, pasar takjil, dan penjualan daring melalui platform digital memperluas akses pasar bagi pelaku usaha kecil. Digitalisasi mempercepat transaksi, sementara promosi melalui media sosial meningkatkan visibilitas produk lokal. Perputaran ekonomi tidak lagi terbatas pada pasar fisik, tetapi juga merambah ruang digital.
UMKM DAN DIGITALISASI
Ramadhan juga menjadi etalase kekuatan ekonomi mikro Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) RI, sektor UMKM menyerap lebih dari 90 persen tenaga kerja nasional. Pada periode Ramadhan, pelaku UMKM di sektor kuliner, fesyen muslim, hingga jasa parsel dan logistik mengalami lonjakan permintaan yang signifikan.
Bazar Ramadhan, pasar takjil, dan penjualan daring melalui platform digital memperluas akses pasar bagi pelaku usaha kecil. Digitalisasi mempercepat transaksi, sementara promosi melalui media sosial meningkatkan visibilitas produk lokal.
Perputaran ekonomi tidak lagi terbatas pada pasar fisik, tetapi juga merambah ruang digital. Secara historis, kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau sering mengalami kenaikan harga akibat lonjakan permintaan. Namun melalui penguatan distribusi dan koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), pemerintah berupaya menjaga agar inflasi tetap dalam target yang ditetapkan Bank Indonesia.
ANTARA/Xinhua
Hal ini diamini Dewi, Suryaningsih, dan Aniwati yang menggunakan media sosial, seperti WhatsApp dan TikTok, untuk mempromosikan dagangan mereka secara berkala maupun menerima pesanan.
"Saya memanfaatkan status WhatsApp dan media sosial untuk mempromosikan dagangan saya. Jika pelanggan puas dengan masakan saya, mereka akan langsung menghubungi saya," kata Suryaningsih.
LADANG IBADAH DAN REZEKI
Secara struktural, Ramadhan tergolong sebagai siklus ekonomi musiman yang terintegrasi dalam pola pertumbuhan nasional. Lonjakan konsumsi, peningkatan produksi UMKM, distribusi logistik, serta kebijakan stabilisasi harga membentuk ekosistem ekonomi yang khas dan berulang setiap tahun.
Namun yang membedakan Ramadhan dari musim belanja lainnya adalah dimensi spiritualnya. Motif ekonomi dan ibadah berjalan beriringan. Pedagang tidak sekadar mengejar keuntungan, tetapi juga keberkahan. Konsumen tidak hanya berbelanja, tetapi juga berbagi.
Saat Ramadhan, nilai sosial dan religius tetap menjadi fondasi utama. Tradisi berbagi takjil gratis, zakat, infak, dan sedekah menciptakan redistribusi pendapatan secara informal di masyarakat. Aktivitas filantropi Islam meningkat saat Ramadhan, memperkuat solidaritas sosial sekaligus membantu kelompok rentan.
Menurut Dewi, berdagang saat Ramadhan merupakan bagian dari ibadah dan momen mencari rezeki. "Bagi saya, ibadah tetap nomor satu. Ketika azan berkumandang, saya stop dulu semua kegiatan. Setelah selesai (beribadah), baru saya lanjutkan kembali. Soal rezeki sudah ada yang mengatur," ujarnya.
Sementara itu, Suryaningsih mengaku banyak pelanggannya yang memesan takjil untuk dibagi-bagikan secara gratis saat Ramadhan. Hal ini pula yang mendorong omzetnya meningkat signifikan.
INFLASI DAN PERSAINGAN KETAT
Namun demikian, momen Ramadhan juga menghadirkan banyak tantangan bagi para pelaku usaha. Salah satunya inflasi. Inflasi selama Ramadhan selalu menjadi perhatian khusus pemerintah, karena lonjakan harga bahan pangan, seperti beras, cabai, dan daging sapi, sering kali menjadi tantangan utama bagi daya beli masyarakat di tengah momentum Ramadhan.
"Harga bahan-bahan, seperti telur dan daging ayam, sering mengalami kenaikan. Akibatnya, saya harus menaikkan harga atau mengurangi porsi, tetapi hanya sedikit," ungkap Suryaningsih.
ANTARA/Xinhua
Selain inflasi, persaingan ketat juga menjadi tantangan lainnya bagi para pelaku usaha saat Ramadhan. Ini menjadi tren musiman tahunan di Indonesia yang didorong oleh tingginya permintaan konsumsi masyarakat untuk berbuka puasa, sahur, dan persiapan Lebaran.
Dewi mengakui hal itu, namun dirinya tidak ambil pusing. "Bersaing secara sehat saja, karena rezeki sudah diatur oleh Tuhan dan tidak akan tertukar," ungkapnya.
Begitu pula Suryaningsih dan Aniwati, yang menyebut banyaknya pesaing sebagai tantangan. Namun, mereka yakin pada akhirnya kualitas yang akan menentukan laris atau tidaknya produk masing-masing.
Di tengah tantangan ekonomi global, Ramadhan menjadi pengingat bahwa daya tahan ekonomi Indonesia bertumpu pada konsumsi domestik dan kekuatan ekonomi rakyat. Dari lapak kecil penjual takjil hingga kebijakan fiskal nasional, semuanya terhubung dalam satu siklus: mencari rezeki, memperkuat solidaritas, dan menjaga keseimbangan pasar. Selesai
Pewarta: Xinhua
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2026


















































