Polresta Ambon siagakan 637 personel amankan pukul sapu Mamala-Morela

1 month ago 19

Ambon (ANTARA) - Polresta Pulau Ambon dan Pulau-Pulau Lease menyiagakan sebanyak 637 personel untuk mengamankan pelaksanaan tradisi adat pukul sapu di Negeri Mamala dan Negeri Morela, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, Sabtu.

Kapolresta Pulau Ambon dan Pulau-Pulau Lease Kombes Pol Yoga Putra Prima Setya di Ambon, Sabtu mengatakan ratusan personel tersebut dikerahkan guna memastikan seluruh rangkaian kegiatan adat yang digelar setiap 7 Syawal itu berlangsung aman, tertib, dan lancar.

“Sebanyak 637 personel kami siagakan untuk melakukan pengamanan di lokasi kegiatan maupun di jalur-jalur yang dilalui masyarakat menuju lokasi tradisi pukul sapu Mamala-Morela,” kata dia.

Ia menjelaskan, pengamanan tidak hanya difokuskan pada lokasi utama kegiatan, tetapi juga mencakup pengaturan arus lalu lintas, pengawasan titik-titik keramaian, serta antisipasi potensi gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat.

Menurutnya, personel yang diterjunkan berasal dari berbagai satuan, termasuk fungsi operasional dan bantuan, yang ditempatkan di sejumlah titik strategis seperti akses masuk desa, persimpangan jalan, hingga area pelaksanaan tradisi.

Selain itu, pihaknya juga telah menggelar apel kesiapan guna memastikan seluruh personel memahami tugas dan tanggung jawab masing-masing selama pelaksanaan pengamanan.

Dirinya menegaskan, seluruh anggota di lapangan diinstruksikan untuk bertindak profesional, humanis, serta mengedepankan langkah-langkah preventif dalam menjaga situasi tetap kondusif.

“Petugas harus cepat dan tanggap terhadap setiap potensi permasalahan serta mengedepankan pendekatan persuasif kepada masyarakat,” ujarnya.

Ia juga mengimbau masyarakat yang akan menyaksikan tradisi tersebut agar tetap mematuhi aturan, menjaga ketertiban, serta mengikuti arahan petugas di lapangan demi kelancaran bersama.

Tradisi pukul sapu di Desa Mamala-Morela Maluku Tengah sendiri merupakan ritual adat yang rutin digelar setiap tahun oleh masyarakat setempat sebagai bagian dari warisan budaya dan peringatan nilai-nilai sejarah serta kebersamaan antarwarga.

Dalam tradisi itu, para pemuda saling menyabetkan lidi kepada satu dengan yang lainnya sebagai bentuk penghormatan dan ungkapan kesedihan atas kekalahan pasukan Kapitan Kapahaha dalam kancah peperangan serta pembangunan tiang alif masjid tua.

Baca juga: Ritual "Injak Bumi" tradisi masyarakat Melayu Jambi saat Lebaran

Baca juga: Kawalu, Kampung Badui Dalam ditutup bagi pengunjung mulai 20 Januarii

Baca juga: Kemenbud: Pengakuan adat Kedang Ipil picu semangat pelestarian budaya

Pewarta: Ode Dedy Lion Abdul Azis
Editor: Tasrief Tarmizi
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |