Jakarta (ANTARA) - Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) menyampaikan keprihatinan mendalam atas eskalasi dan tindakan militer yang terjadi di kawasan Timur Tengah karena berpotensi memicu krisis global serta mendesak negara terkait untuk menghentikannya.
Dalam surat pernyataan yang ditandatangani Ketua Umum Jacklevyn Frits Manuputty dan Sekretaris Umum Darwin Dharmawan, PGI menilai situasi tersebut telah menimbulkan instabilitas regional dan memperbesar risiko meluasnya konflik antarnegara.
“PGI mengecam berbagai tindakan militer yang dilakukan sejumlah negara, termasuk keterlibatan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, konflik antara Pakistan dan Afghanistan, serta aksi pembalasan militer Iran di kawasan yang dinilai semakin memperluas lingkaran kekerasan dan mengancam keamanan internasional,” tulis surat pernyataan tersebut yang diterima di Jakarta, Selasa.
Menurut PGI, keberpihakan gereja tidak diarahkan pada kepentingan politik negara mana pun, melainkan kepada warga sipil yang terdampak konflik, termasuk keluarga yang tercerai-berai serta anak-anak yang mengalami ketakutan dan trauma.
Baca juga: Pakar ingatkan RI waspadai benturan kepentingan di "Board of Peace"
PGI juga menyerukan penghentian seluruh aksi militer serta mendorong Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), lembaga-lembaga internasional, pemerintah, dan komunitas global untuk mengedepankan dialog serta mematuhi hukum humaniter internasional.
Selain itu, PGI mengajak umat untuk mendoakan perdamaian, menunjukkan solidaritas kepada para korban, serta menghindari ujaran kebencian dan polarisasi di tengah situasi global yang dinilai semakin rapuh.
PGI berharap para pemimpin dunia memperoleh hikmat dalam memilih jalan damai dan menghentikan tindakan yang mengancam kehidupan manusia serta kelestarian alam, demi terwujudnya perdamaian yang sejati bagi seluruh umat manusia.
“Kiranya kasih dan keadilan Allah nyata di dunia, sehingga perdamaian yang sejati hadir bagi seluruh umat manusia,” tulis surat tersebut.
Baca juga: Pakar nilai mediasi Indonesia di Timur Tengah belum diperlukan
Pewarta: Asep Firmansyah
Editor: Riza Mulyadi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































