Perjuangan Masjid BJTB hadapi premanisme di kolong Tol Buah Batu

3 hours ago 3
Hadirnya Masjid Hijriah BJTB mengubah wajah kolong tol secara drastis yang berawal dari tempat kumuh dan menakutkan, kini menjadi titik aman bagi ibadah, belajar, dan berbagi.

Bandung (ANTARA) - Di bawah bayang-bayang beton Tol Buah Batu, Kota Bandung, ada sebidang tanah yang lama hidup dalam reputasi buruk, sebuah ruang yang lebih sering dihindari daripada dilewati.

Aroma oli bekas bercampur dengan sampah yang menumpuk, serta genangan air mengubah jalanan menjadi lumpur licin setiap hujan turun, sementara tatapan waspada menjadi bahasa sehari-hari bagi siapa pun yang melintas.

Di tempat itu, preman berkeliaran, transaksi ilegal berlangsung nyaris tanpa sembunyi, dan ketegangan terasa menggantung di udara, seolah-olah tempat itu memiliki hukumnya sendiri.

Setiap sudut kolong tol bagaikan wilayah terlarang, di mana pengaruh preman terasa menekan bahkan bagi warga yang hanya lewat atau sekadar ingin menengok keadaan sekitar.

Bagi warga sekitar, kolong tol itu pernah menjadi ruang penuh gesekan sosial, ancaman fisik, dan rasa takut yang membuat kebaikan enggan singgah.

“Dulunya, area ini juga menjadi tempat singgah bagi geng motor dan kegiatan negatif lainnya. Sangat seram, banyak preman berkeliaran,” kenang Saepul Rohmat (47), mengingat masa ketika melintasi kawasan itu saja sudah membutuhkan nyali..

Dengan nada berat, ia mengingat bagaimana dulu hampir setiap malam ada keributan, dan menghindari malam lebih awal untuk menghindari ancaman. Bahkan penggerebekan pernah dilakukan karena adanya penjualan oli ilegal.

Baca juga: Tingkatkan nilai tambah sosial, DMI tekankan basis data masjid

Mendorong perubahan

Di tengah kekacauan itu, Saepul muncul dengan tekad untuk hijrah.

Ia bukan lagi bagian dari geng motor yang dulu mengisi hari-harinya, melainkan seorang pria yang ingin membawa perubahan.

Setiap langkahnya kini diarahkan untuk mendekatkan diri pada agama, meninggalkan pola hidup lama, dan membantu orang lain yang mungkin tersesat seperti dirinya dulu.

Bersama sembilan teman, ia memutuskan mendirikan Masjid Hijrah Bawah Jembatan Tol Buah Batu (BJTB) di bawah jembatan tol sebagai titik awal hijrah.

Lokasinya yang dekat pintu keluar Tol Buah Batu menjadikan tempat itu strategis, sekaligus menantang karena rawan kriminalitas.

“Kami ingin hijrah dan mendirikan masjid untuk memperbaiki diri,” ujarnya.

Perjuangan mendirikan masjid pun dimulai dari mediasi dengan preman, kompromi ditawarkan, dan lahan parkir motor 6×8 meter mulai ditata.

Setiap langkah dipenuhi perhitungan, karena salah gerak sedikit saja bisa menimbulkan konflik.

“Beberapa preman menolak di awal, tapi kami tetap sabar menata secara bertahap,” katanya.

Keteguhan ini menjadi modal utama mereka untuk menghadapi tantangan awal berat yang tak jarang harus berkonflik fisik, bahkan pernah melibatkan hampir seratus motor berkumpul untuk menjaga masjid dari ancaman perusakan.

“Kami berjaga dua hari penuh, tapi akhirnya masjid aman,” tambahnya.

Ia mengenang bagaimana adrenalin dan rasa takut bercampur saat harus berjaga di malam hari di tengah kerumunan orang yang masih skeptis terhadap niat mereka.

Selain itu, keberadaan ustaz Hendra dari Lengkong menjadi kunci agar masjid berjalan sesuai syariat.

“Kami butuh pembimbing agar masjid bisa dijalankan dengan benar,” ungkapnya.

Ustaz Hendra juga membantu memberikan pengajaran agama yang tepat, sehingga para pemuda yang terlibat dapat diarahkan dengan baik dan masjid tidak hanya menjadi bangunan, tetapi juga pusat edukasi spiritual.

Perlahan, pandangan preman pun berubah, dan lingkungan yang dulunya keras mulai menerima keberadaan masjid.

Beberapa preman yang awalnya menentang kini ikut membantu pembangunan kecil-kecilan, menata ruangan, atau sekadar menjaga keamanan masjid saat ada kegiatan.

Baca juga: Rumah ibadah didorong tak hanya jadi pusat ibadah, tapi ekonomi-sosial

Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026

Read Entire Article
Rakyat news | | | |