Jakarta (ANTARA) - Bagi sebagian besar orang, Ramadhan adalah momentum pulang ke rumah yang hangat.
Namun, bagi para penyintas bencana hidrometeorologi di Aceh Tamiang, 'rumah' kini hanyalah selembar terpal yang tak lagi mampu membendung amuk cuaca.
Saat hujan, udara dingin menusuk tulang, sementara lingkungan sekitar kembali berlumpur becek dan lembab.
Dan saat kemarau, lumpur yang mengering berubah menjadi debu pekat yang menyesakkan nafas.
Baca juga: BNPB wanti-wanti soal pemanfaatan dana perbaikan rumah korban bencana
Teriknya matahari musim panas pun menyengat menusuk kepala, membuat ibadah puasa terasa jauh lebih menantang.
Di tengah kondisi yang jauh dari kata pulih ini, bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah tetap datang bertamu.
Bagi para pengungsi, Ramadhan tahun ini dijalani dengan keikhlasan yang luar biasa, meski getir itu tak bisa disembunyikan.
Salah satu guratan duka itu terlihat di wajah M Shaleh (73). Di usia senjanya, ia harus menerima kenyataan pahit bahwa harta bendanya habis tak bersisa.
Baca juga: Warga Langkahan mengaku senang di Huntara PU, terutama anak-anak
"Rumah saya sudah hilang, hanyut. Rasanya sangat berbeda dengan tahun lalu," kata dia dengan nada getir.
Bukan hanya tempat tinggal, mata pencahariannya sebagai peternak pun habis tak bersisa. Sapi-sapi miliknya hanyut tersapu air. Kini, ia hanya bisa bersabar tinggal di dalam tenda yang panas, sembari mencoba merajut kembali harapan yang sempat terkoyak.
Warga lainnya, Ariyani (52), mengatakan dirinya menumpang tinggal di suatu rumah.
"Itu pun hanya tinggal separuh bangunannya. Kami isi dengan empat kepala keluarga (KK)", katanya.
Baca juga: Raya dalam kesederhanaan di tenda pengungsi
Mereka tidak mampu membayangkan hari kemenangan Idul Fitri nanti. Tanpa dinding rumah yang kukuh, bayangan merayakan Lebaran di bawah tenda pengungsian terasa abu-abu dan menyesakkan dada.
Namun, di tengah keterbatasan itu, secercah harapan muncul, tim Dompet Dhuafa masih berada di Aceh Tamiang untuk menyalurkan bantuan berupa Parsel Ramadan.
Paket bantuan ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan dasar sekaligus menguatkan spiritualitas para penyintas.
Parsel Ramadhan berisi sembako, kurma untuk sahur dan berbuka puasa, serta perlengkapan ibadah baru.
Baca juga: Mendagri: Sejumlah masalah masih perlu ditangani dalam pemulihan Aceh
Kehadiran bantuan ini membawa kehangatan tersendiri.
Shaleh, Aryani, dan penerima manfaat lainnya tak mampu menyembunyikan kebahagiaannya.
Senyum lebar mengembang di wajah mereka dan sejumlah warga saat menerima paket Parsel Ramadhan tersebut.
Bagi mereka, bantuan ini bukan sekadar bahan pangan, melainkan pesan bahwa mereka tidak sendirian dalam perjuangan ini.
Koordinator Respons Bencana Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa di Aceh Tamiang, Ahmad Yamin, menyampaikan bahwa bantuan ini bukan sekadar paket logistik, melainkan pesan bahwa mereka tidak sendirian dalam menghadapi bencana ini.
"Melalui Parsel Ramadhan ini, kami ingin mengupayakan dapur pengungsian tetap mengepul saat sahur dan berbuka. Dan membawa suasana sunah dan manisnya Ramadhan ke dalam tenda. Agar para penyintas juga dapat menjalankan ibadah dengan lebih layak dan nyaman," ujar Ahmad Yamin.
Meski masa depan masih tertutup debu dan ketidakpastian, hadiah kemenangan ini menjadi bahan bakar bagi mereka untuk tetap tegak menjalankan ibadah, menjemput berkah di bulan yang suci, dan berharap hari esok akan lebih baik dari hari ini.
Baca juga: Mendagri buka puasa bersama pengungsi Aceh Tamiang
Pewarta: Anita Permata Dewi
Editor: Sambas
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































