Jakarta (ANTARA) - Pengamat industri otomotif sekaligus peneliti kendaraan listrik Institut Teknologi Bandung (ITB) Yannes Martinus Pasaribu menyebut ada tiga langkah utama yang dapat meningkatkan daya saing Indonesia dalam industri kendaraan listrik berbasis baterai (battery electric vehicle/BEV) di kawasan ASEAN, mulai dari kepastian regulasi hingga penguatan ekosistem rantai pasok.
“Untuk membuat iklim BEV Indonesia lebih kompetitif dibanding negara ASEAN lain, kebijakan perlu diarahkan pada tiga hal utama, yang pertama memberikan kepastian regulasi jangka panjang dan insentif yang lebih jelas bagi produsen komponen BEV," kata dia dihubungi dari Jakarta, Selasa.
Yannes menjelaskan, insentif yang lebih jelas bagi produsen komponen BEV penting, sebab menurutnya, kebijakan saat ini masih cenderung berfokus pada perakitan kendaraan dan insentif konsumen, sehingga belum optimal mendorong penguatan industri komponen.
Baca juga: Menperin sebut mobil nasional mulai diproduksi tahun 2027
Baca juga: Pabrik mobil nasional jadi momentum bangkitnya industri otomotif RI
Langkah kedua, lanjut Yannes, adalah mempercepat pembangunan ekosistem rantai pasok (supply chain) komponen secara terintegrasi. Hal ini dinilai penting agar Indonesia tidak terus bergantung pada impor komponen inti, termasuk baterai yang merupakan komponen utama kendaraan listrik namun belum diproduksi secara luas di dalam negeri.
"Masalah baterai sebagai komponen inti BEV yang tidak juga mulai diproduksi di Indonesia, ini adalah inti permasalahannya," ujar Yannes.
Ketiga, ia menekankan pentingnya mendorong produksi massal BEV dengan harga terjangkau di dalam negeri. Dengan demikian, akan tercipta permintaan riil yang dapat menopang keberlangsungan industri dan memperkuat posisi pemasok komponen lokal.
Yannes menilai, ketiga langkah tersebut saling berkaitan dan menjadi fondasi penting dalam membangun industri BEV yang kompetitif. Tanpa kepastian pasar, rantai pasok yang terintegrasi, dan insentif yang menyentuh produsen komponen, Indonesia akan sulit mempercepat pengembangan industri kendaraan listrik secara menyeluruh.
Dalam konteks penguatan industri kendaraan listrik, Yannes juga menyoroti bahwa kabar rencana penerapan insentif EV yang mempertimbangkan bahan baku baterai berbasis nikel akan memperkuat posisi Indonesia di rantai pasok bahan baku baterai.
Namun, menurut dia, penguatan di sisi hulu tersebut belum otomatis memperkuat ekosistem industri BEV secara keseluruhan yang masih menghadapi tantangan di sektor komponen.
Ia menambahkan, kondisi tersebut menjadi semakin relevan ketika dibandingkan dengan negara seperti Vietnam yang telah memiliki ekosistem BEV lebih matang dan mampu menarik investasi pemasok asing, bahkan hingga mengekspor produk ke berbagai pasar dunia.
“Vietnam sudah memiliki ekosistem BEV lebih matang dan mampu menarik investasi pemasok asing bahkan hingga mengekspornya ke berbagai pasar dunia,” kata dia.
Dengan penguatan kebijakan di tiga aspek utama tersebut, Indonesia dinilai memiliki peluang untuk mengejar ketertinggalan dan memperkuat posisinya dalam persaingan industri kendaraan listrik di kawasan ASEAN.
Baca juga: Gaikindo sebut penguatan rupiah angin segar bagi industri otomotif
Baca juga: Pakar: Industri otomotif terdampak imbas naiknya nilai tukar dolar
Baca juga: Prabowo gunakan Maung sebagai bentuk dukungan produk anak bangsa
Pewarta: Pamela Sakina
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026

















































