Jakarta (ANTARA) - Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan pihaknya sedang merintis ekspor produk olahan unggas ke Filipina sebagai pasar baru, sekaligus memperluas jangkauan ekspor yang selama ini telah berjalan rutin ke berbagai negara.
"Ini kita rintis lagi Filipina, berarti jadi 11 negara (tujuan ekspor produk olahan perunggasan nasional)," kata Mentan ditemui usai kegiatan Pelepasan Ekspor Unggas dan Produk Turunannya sebanyak 545 ton senilai Rp18,2 miliar ke Jepang, Singapura dan Timor Leste di Jakarta, Selasa (3/3).
Amran menyampaikan ekspor tersebut berlangsung setiap hari, khususnya untuk ayam dan telur olahan, bahkan kegiatan itu telah menembus 10 negara tujuan yang menjadi langganan Indonesia.
Hanya saja, khusus ekspor pada Selasa ini, produk unggas dan turunannya diekspor ke tiga negara, yakni Timor Leste, Singapura, dan Jepang sebagai bagian pengiriman rutin berkelanjutan.
Hal itu menunjukkan konsistensi permintaan pasar internasional terhadap produk perunggasan Indonesia.
Baca juga: Mentan lepas ekspor produk unggas senilai Rp18,2 miliar ke tiga negara
"Hari ini kami ekspor produk unggas dan turunannya ke tiga negara, yaitu Timor Leste, Singapura dan Jepang. Tetapi, ini secara rutin. Salah satu tadi, ayam dengan telur kita ekspor itu tiap hari. Tiap hari terus-menerus dan diekspor ke 10 negara," ujarnya.
Adapun 10 negara tujuan tersebut meliputi Uni Emirat Arab, Qatar dan Oman yang menjadi pasar potensial kawasan Timur Tengah.
Selain itu, ekspor juga menjangkau Papua Nugini, Myanmar, serta Brunei Darussalam yang terus menunjukkan peningkatan permintaan signifikan.
Pasar lainnya mencakup Republik Ceko, bersama Singapura, Jepang, dan Timor Leste, sehingga total negara tujuan menjadi 10 sebelum rintisan ekspor baru ke Filipina.
Dengan penjajakan pasar Filipina, jumlah negara tujuan ekspor produk unggas Indonesia berpotensi bertambah menjadi 11, mempertegas strategi ekspansi dan diversifikasi pasar global sektor perunggasan nasional.
Baca juga: Larangan impor unggas RI ke Arab tidak berkaitan dengan isu halal
Mentan menekankan ekspor produk olahan memberikan nilai tambah signifikan dibandingkan ekspor ayam hidup, dari kisaran Rp30.000 menjadi Rp60.000 per kilogram, atau meningkat hingga seratus persen.
Ia menegaskan kebijakan hilirisasi itu merupakan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk mendorong peningkatan nilai tambah, memperkuat industri dalam negeri, serta mengoptimalkan keuntungan bagi petani dan peternak.
Hilirisasi
Menurut Mentan, hilirisasi tidak hanya meningkatkan pendapatan perusahaan, tetapi juga memperbesar kesejahteraan peternak rakyat melalui stabilitas permintaan dan harga yang lebih kompetitif di pasar ekspor.
"Inilah tujuan pemerintah kita lakukan hilirisasi. Meningkatkan pendapatan petani, peternak, pendapatan perusahaan," kata Amran.
Pemerintah juga memastikan kemudahan layanan ekspor, dengan proses perizinan dipercepat dan tidak melebihi satu kali 24 jam, bahkan ditargetkan dapat selesai hanya satu jam.
Baca juga: Kementan dorong pengusaha perluas ekspor produk unggas nasional
Kemudahan tersebut diharapkan mempercepat pergerakan ekonomi, memperkuat daya saing produk unggas nasional, serta menegaskan peran pemerintah sebagai pelayan masyarakat dalam mendorong ekspor berkelanjutan.
"Pelayanan tidak boleh lebih dari satu kali 24 jam. Bila perlu satu jam, selesai surat-suratnya. Kita berikan kemudahan mereka. Kita ini pemerintah melayani rakyat. Itu pesan Bapak Presiden. Kita layani mereka dengan baik, (agar) ekonomi bergerak," kata Amran.
Pewarta: Muhammad Harianto
Editor: Edy Sujatmiko
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































