Cirebon (ANTARA) - Sepiring nasi pernah menjadi batas yang tak terlihat di rumah Rusdin. Sejak kusta dinyatakan ada di tubuhnya, ia tak lagi makan bersama keluarga. Piring dan gelasnya dipisahkan.
Pria asal Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, ini masih remaja kala itu dan belum benar-benar paham apa yang sedang terjadi, kecuali satu hal yakni orang-orang di sekitarnya mulai menjaga jarak.
Gejala itu sebenarnya sudah muncul sejak ia duduk di bangku sekolah dasar (SD). Bercak putih terlihat di punggungnya.
Suatu hari, petugas kesehatan datang ke sekolah untuk memberikan penyuluhan tentang kusta. Penjelasan mengenai gejala penyakit itu terasa begitu dekat dengan apa yang dialaminya.
Takut ketahuan dan dijauhi, Rusdin kecil memilih kabur ketika pemeriksaan hendak dilakukan. Saat itu, dia beralasan ingin pergi ke kamar mandi.
“Waktu itu saya sempat kabur, karena ada pemeriksaan kusta di sekolah,” kenangnya saat berbincang dengan ANTARA, Selasa.
Saat menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Pertama (SMP), kondisinya memburuk. Kulitnya menghitam dan tubuhnya kerap terasa panas.
Kondisi tersebut, memaksanya untuk memeriksakan diri ke puskesmas. Hasilnya memastikan tubuhnya didiagnosis mengidap kusta basah.
“Setelah diperiksa ke puskesmas, ternyata saya dinyatakan memiliki penyakit kusta,” katanya.
Setahun penuh ia menjalani pengobatan. Obat-obatan membuat tubuhnya lemas dan kakinya sulit digerakkan. Ia bahkan sempat berhenti sekolah.
Karena telat penanganan, beberapa anggota tubuhnya mulai berubah, terlihat pada bagian jemari serta kaki kanannya. Kondisi tersebut kini menjadikannya sebagai difabel.
Ketika kembali bersekolah, ia berjalan dengan berpegangan pada dinding. Pelajaran olahraga tak lagi bisa diikutinya.
Namun untuk pelajaran lain, ia tetap berusaha dan bertahan di peringkat sepuluh besar hingga lulus SMP.
Stigma tak ikut sembuh bersama selesainya terapi. Di SMP ia dijauhi. Di SMA, penolakan berubah menjadi protes terbuka agar ia dikeluarkan dari sekolah.
Di rumah, jarak itu tetap terasa. Sejak akhir 1990-an hingga sekitar satu dekade berikutnya, Rusdin lebih banyak mengurung diri. Ia kehilangan harga diri. Depresi sempat membuatnya ingin menyerah pada hidup.
Baca juga: Kemenkes: Scabies, kusta, dan frambusia kini masuk pemeriksaan CKG
Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































