Menempa mental dengan skateboard

4 hours ago 1

Jakarta (ANTARA) - Sebelum seorang anak berhasil mendaratkan ollie, lompatan paling dasar dalam skateboard, ia rata-rata harus jatuh ratusan kali. Ratusan, bukan puluhan. Papan terlepas, lutut menghantam beton, pergelangan kaki terkilir, lalu ia tetap berdiri, mengatur ulang posisi kaki, dan mencoba lagi.

Pullias Center for Higher Education di University of Southern California mulai meneliti skateboard bukan karena prestasinya yang mulai dipertandingkan di Olimpiade Tokyo 2020, melainkan karena proses jatuh-bangunnya itu sendiri. Mereka menemukan bahwa pengulangan kegagalan fisik yang terjadi sebelum kompetisi, bukan saat kompetisi, adalah inti dari apa yang membuat olahraga ini berbeda dari hampir semua olahraga lain yang biasa dikenal anak-anak.

Saat meluncur di atas papan, otak anak tidak sedang beristirahat. Ia memproses banyak hal sekaligus, ke mana tubuh harus condong, seberapa keras kaki harus menekan, kapan harus melompat, dan bagaimana mendarat. Semua itu terjadi dalam waktu kurang dari satu detik, berulang-ulang, setiap sesi latihan.

Pengulangan seperti ini membentuk koneksi baru di otak. Setiap kali anak gagal dan mencoba lagi, jalur sarafnya semakin kuat, sampai pada titik di mana gerakan yang tadinya harus dipikirkan keras-keras, akhirnya mengalir otomatis, seperti mengayuh sepeda.

Dua sistem dalam tubuh mendapat kerja keras yang jarang mereka dapatkan dari olahraga lain. Pertama, sistem keseimbangan di telinga bagian dalam, yang terus-menerus mendeteksi arah dan kecepatan gerak tubuh. Kedua, sinyal dari otot dan sendi yang memberi tahu otak di mana posisi setiap bagian tubuh, bahkan tanpa harus melihatnya.

Kedua sistem ini, ketika dirangsang secara intens dan berulang, terbukti membantu menenangkan sistem saraf. Bagi anak-anak dengan ADHD yang otaknya sulit menemukan titik tenang, skateboard memberikan stimulasi yang tepat untuk sampai ke sana.

Hal yang membuat temuan ini makin menarik, bagian otak yang mengatur keseimbangan ternyata bukan hanya soal keseimbangan. Penelitian dari Albert Einstein College of Medicine yang terbit di jurnal Science pada 2019 membuktikan bahwa serebelum, yaitu bagian otak di bagian belakang kepala yang selama ini dianggap hanya mengurus koordinasi gerak, punya jalur langsung ke pusat dopamin otak.

Dopamin adalah zat kimia yang membuat otak merasa puas dan termotivasi. Artinya, setiap kali anak berhasil mendaratkan trik, setelah puluhan atau ratusan kali gagal, bukan hanya perasaan senangnya yang terpicu, otaknya secara harfiah sedang melatih ulang sistem motivasinya.

Temuan paling tidak terduga datang dari sebuah lembaga layanan anak di Kanada. Hull Services di Alberta menangani anak-anak yang mengalami trauma berat, kekerasan, penelantaran, gangguan perilaku. Lembaga ini menggunakan pendekatan terapi berbasis neurosains yang dikembangkan oleh psikiater Dr Bruce Perry. Pendekatan ini bertolak dari satu prinsip sederhana bahwa otak berkembang dari bawah ke atas.

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |