Wuhan (ANTARA) - Mahasiswa pascasarjana asal Malaysia, Chew Sien Ping, sudah terbiasa menjelajah di luar bidang kedokteran. Baginya, kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) bukan sekadar perangkat, melainkan jalur cepat yang mampu menyederhanakan kerumitan dan membuka berbagai kemungkinan baru.
"Saya mengerjakan proyek-proyek interdisipliner yang melibatkan bidang kedokteran dan teknik. AI membantu saya mengintegrasikan informasi dari berbagai bidang dan perspektif dengan cepat," kata Chew, yang sedang meneliti pencitraan molekuler untuk penyakit mata kompleks dan antarmuka otak-komputer visual di Universitas Jiao Tong Shanghai.
Chew termasuk di antara 500 lebih peserta dari badan-badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), organisasi pemuda internasional, serta lebih dari 120 negara dan kawasan yang menghadiri Forum Pengembangan Pemuda Dunia 2026, yang diselenggarakan pekan ini di Wuhan, ibu kota Provinsi Hubei di China tengah.
Para partisipan forum terlibat dalam diskusi yang hidup mengenai bagaimana AI mengubah penelitian, kewirausahaan, pendidikan, dan pembangunan sosial.
Dalam Pekan Akselerasi Program Pengembangan Pemuda Global (Acceleration Week for Global Youth Development Programs) di forum tersebut, pihak penyelenggara memilih lebih dari 170 proyek pengembangan pemuda dari 70 lebih negara dan kawasan. Inisiatif-inisiatif tersebut dikelompokkan ke dalam delapan kategori, termasuk "AI Plus".
Di antara para inovator yang paling banyak dibicarakan adalah ekonom Brasil Felipe Bailez, yang timnya mengembangkan Palver Intelligence, sebuah platform berbasis AI yang dirancang untuk memantau dan menganalisis arus informasi di media sosial dan media tradisional.
"Kami memantau seluruh ekosistem informasi, termasuk Facebook, Instagram, Twitter (yang kini berganti nama menjadi X), YouTube, WhatsApp, serta televisi dan radio," ujar Bailez. "Dengan data dan AI ini, kami dapat mengidentifikasi adanya disinformasi atau berita palsu, dan kemudian membantu perusahaan-perusahaan serta pemerintah di Brasil menavigasi ekosistem yang sangat membingungkan ini."
Sementara beberapa partisipan berfokus pada inovasi mutakhir, partisipan lainnya menyoroti potensi AI untuk mempersempit kesenjangan pembangunan yang telah lama ada.
"Dengan sumber daya data dan kemampuan AI, banyak hal yang dulunya tampak mustahil atau membutuhkan sumber daya yang sangat besar kini menjadi mungkin," ungkap Gao Yongkai, seorang mahasiswa pascasarjana dari Universitas Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Hong Kong (Guangzhou).
Tim Gao mendirikan pojok pembelajaran AI di dalam sebuah toko buku desa di Guangzhou, ibu kota Provinsi Guangdong, China selatan, yang telah memberikan manfaat bagi lebih dari 3.500 penduduk.
Pojok tersebut menawarkan bimbingan AI gratis dalam bidang penulisan, pelatihan bahasa Inggris lisan, dan pendidikan sains, serta mendorong para pelajar untuk memanfaatkan perangkat AI guna mendokumentasikan dan mempromosikan budaya setempat.
Dalam pidatonya di forum tersebut, A Dong, pejabat senior di bidang pemuda di China, menggambarkan kaum muda sebagai generasi yang paling berpeluang untuk membentuk masa depan AI.
"Kami berharap kaum muda dari semua negara dapat bekerja sama untuk meluncurkan proyek-proyek pembangunan yang lebih berdampak, menjembatani kesenjangan pembangunan, mendorong globalisasi ekonomi yang lebih inklusif, serta membangun dunia dengan kemakmuran bersama," imbuhnya.
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































