Mendagri: Pemulihan pascabencana di Sumatra tunjukkan progres positif

6 hours ago 6

Jakarta (ANTARA) - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) sekaligus Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatra Tito Karnavian mengatakan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat terus menunjukkan perkembangan positif.

Hal itu disampaikannya saat menghadiri Aceh Ramadhan Festival 2026 yang dirangkaikan dengan Khanduri Ramadhan dan peringatan Nuzulul Quran di halaman Masjid Raya Baiturrahman, Aceh.

Dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Sabtu, Tito menjelaskan sejak hari pertama kejadian, pemerintah pusat langsung mengerahkan berbagai kekuatan nasional untuk melakukan penanganan darurat di wilayah terdampak di tiga provinsi tersebut.

Personel TNI, Polri, hingga Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) diterjunkan ke lapangan untuk membantu masyarakat terdampak. Tim gabungan bahkan harus menembus sejumlah wilayah yang akses jalannya terputus akibat banjir dan kerusakan infrastruktur.

“Menembus juga sungai-sungai yang putus. Karena kecintaan saya pada Aceh, kemudian hari ini saya lihat situasi sudah jauh banyak berubah dibanding ketika saya datang 29 November lalu,” kata Tito.

Menurutnya, kondisi di wilayah terdampak kini jauh lebih baik dibandingkan saat awal bencana pada akhir November lalu. Listrik yang sebelumnya baru pulih sekitar 50 persen kini telah hampir sepenuhnya pulih.

Selain itu, jaringan internet yang sempat terputus kini mulai kembali normal. Distribusi logistik ke wilayah pegunungan seperti Aceh Tengah juga berangsur membaik, sementara aktivitas pasar dan perekonomian masyarakat mulai kembali bergerak.

“Aktivitas pasar dan perekonomian masyarakat pun mulai kembali berjalan, semua karena kerja keras kita dan berkah dari Allah SWT,” ujarnya.

Meski demikian, pemerintah masih terus menangani sejumlah wilayah yang terdampak banjir lumpur dan longsor, terutama di Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Utara, Pidie Jaya, dan Bireuen.

Penanganan juga difokuskan pada daerah pegunungan seperti Bener Meriah, Gayo Lues, dan Aceh Tengah yang masih mengalami kerusakan jalan serta jembatan sementara.

Tito mengatakan pemerintah telah menyalurkan bantuan tahap pertama kepada masyarakat terdampak bencana, mulai dari perbaikan rumah hingga bantuan perorangan bagi warga.

“Rumah yang rusak ringan diberikan bantuan Rp15 juta, rusak sedang Rp30 juta. Kemudian bantuan perorangan berupa uang lauk pauk Rp15 ribu per hari, bantuan perabotan Rp3 juta, serta stimulan ekonomi Rp5 juta,” ujarnya.

Ia menyebut total bantuan gelombang pertama yang telah disalurkan mencapai sekitar Rp900 miliar. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp400 miliar dialokasikan untuk wilayah Aceh, termasuk Rp241,6 miliar yang disalurkan di Pidie Jaya.

Selain bantuan pemulihan, pemerintah juga menyalurkan bantuan perlengkapan ibadah bagi masyarakat terdampak, seperti ribuan perlengkapan shalat dan Al Quran wakaf yang akan dibagikan kepada warga yang membutuhkan.

“Ada 5.000 peralatan shalat. Kemudian Al Quran wakaf dari Bapak Presiden yang totalnya 70 ribu, namun hari ini kita bagikan 5.000 di sini. Ada sajadah, sarung, dan mukena. Insyaallah bisa bermanfaat," katanya.

Dalam kegiatan tersebut, Mendagri juga ikut memukul bedug di halaman masjid yang menjadi penanda dimulainya buka puasa bersama yang diikuti masyarakat dan para peserta acara yang hadir.

Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan salat Magrib berjamaah di kompleks masjid kebanggaan masyarakat Aceh tersebut.

Dalam kesempatan tersebut, Tito juga didampingi Menteri Sosial Saifullah Yusuf, Gubernur Aceh Muzakir Manaf, Wakil Gubernur Aceh Fadlullah, dan Direktur Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan Kemendagri Safrizal ZA.

Pewarta: Fianda Sjofjan Rassat
Editor: Wuryanti Puspitasari
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |