Jakarta (ANTARA) - Sejak 3 Desember 2023 hingga 3 Maret 2026, Gunung Marapi di Sumatera Barat terus menunjukkan aktivitas vulkanisnya. Gunung ini tidak pernah benar-benar diam.
Berdasarkan laporan resmi dari MAGMA ESDM, dalam kurun lebih dari dua tahun itu terjadi 528 kali erupsi. Sebanyak 524 di antaranya tergolong kecil (VEI 1) dan 4 kali sedikit lebih kuat (VEI 2). Secara ilmiah, letusan ini tergolong kecil. Namun karena terjadi berulang, Marapi seolah memilih melepaskan energinya sedikit demi sedikit.
Di luar erupsi tersebut, tercatat pula 8.904 kali hembusan, berupa pelepasan gas dan abu dalam intensitas lebih rendah. Hembusan ini mungkin tidak selalu disertai dentuman besar, tetapi ia menandakan bahwa dapur magma di kedalaman tetap aktif. Marapi seperti bernapas panjang; mengeluarkan uap, gas, dan abu secara perlahan, mengingatkan kita bahwa bumi di bawah kaki kita selalu bergerak.
Bayangkan saja, hampir setiap hari ada aktivitas yang terekam. Dalam sekitar 27 bulan, rata-rata terjadi hampir 20 erupsi per bulan. Artinya, aktivitas Marapi bukan peristiwa sesekali, melainkan pola yang konsisten.
Bagi warga sekitar, ini bukan sekadar angka. Kadang tercium bau belerang hingga ke Kubang Putih dan bahkan ke Kota Padang Panjang. Abu tipis bisa turun pelan, menempel di atap rumah, daun tanaman, dan jalanan.
Dalam skala ilmiah, letusan VEI 1–2 memang tergolong kecil. Kolom abunya umumnya tidak terlalu tinggi. Namun jika letusan kecil itu terjadi ratusan kali, material yang keluar tetap besar jumlahnya.
Secara teori, total material yang sudah dikeluarkan bisa mencapai puluhan juta meter kubik. Angka pastinya bervariasi, tapi intinya jelas: sedikit demi sedikit, lereng gunung berubah bentuk. Sungai membawa lebih banyak sedimen. Lanskap pelan-pelan menyesuaikan diri.
Perubahan alam tidak selalu datang dalam satu ledakan dahsyat. Kadang ia hadir sebagai akumulasi peristiwa kecil yang terus berulang.
Ancaman dan anugerah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































