Jakarta (ANTARA) - Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat meminta Kementerian Pariwisata untuk melakukan pemetaan pertumbuhan pariwisata negara tetangga di kawasan Asia Tenggara demi memperkuat pariwisata tanah air.
"Saya berharap dalam pertemuan berikutnya, apa yang disampaikan oleh Ibu Menteri (Pariwisata), itu juga perlu menyampaikan kondisi pesaing-pesaing kita di negara-negara tetangga sehingga kita punya ukuran jelas dari anggaran yang ada ini, sebenarnya apa yang kita tuju," kata anggota Komisi VII DPR RI Novita Hardini dalam Rapat Kerja bersama Kementerian Pariwisata di Kompleks Parlemen di Jakarta, Rabu.
Komentar tersebut keluar merespons isu sektor pariwisata Vietnam yang melampaui Indonesia, khususnya tentang pengembangan destinasi-destinasi baru. Novita meminta Kemenpar mewaspadai isu tersebut karena berkaitan dengan posisi pariwisata Indonesia baik di tingkat regional Asia Tenggara maupun di kancah global.
Baca juga: Menpar sebut pariwisata tumbuh kuat di tengah tekanan geopolitik
Berdasarkan survei Travel and Tourism Development Index (TTDI) 2024, Indonesia sudah berada pada posisi 22 dari 119 negara.
Pemetaan pertumbuhan pariwisata tersebut, menurut Novita, perlu diimbangi dengan penggunaan anggaran untuk tujuan yang sudah terarah dan memiliki target untuk mengatasi tantangan.
Dia juga menilai Kemenpar perlu mengadakan promosi pariwisata secara gencar dan memberikan kemudahan konektivitas menuju destinasi wisata.
Menurut Novita, dengan meningkatkan akses melalui jalur udara, tidak hanya menarik semakin banyak wisatawan mancanegara untuk berkunjung, tapi, juga mengatasi masalah overtourism (jumlah wisatawan terlalu banyak di sebuah daerah atau destinasi wisata).
"Overtourism kita itu hanya berada di titik-titik yang memang sudah tersedia air connectivity (penerbangan) saja sehingga di kondisi ekonomi kita hari ini sektor pariwisata menjadi satu-satunya harapan besar (pada pertumbuhan ekonomi)," kata Novita.
Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Lamhot Sinaga dalam rapat tersebut menyarankan Kementerian Pariwisata mengatasi masalah tersebut dengan mulai melakukan perbandingan data mulai tahun 2024, 2025 hingga kini, untuk memastikan laju pertumbuhan sektor pariwisata di Indonesia.
Dia juga sepakat bahwa sektor pariwisata Indonesia masih perlu lebih giat dikembangkan lebih spesifik agar tidak tertinggal dari negara lain, khususnya negara-negara yang berada di kawasan Asia Tenggara.
"Kita butuh data apakah kemudian pertumbuhan (sektor pariwisata) yang saat ini dibandingkan 2024-2025, dibanding negara lain, rasionya itu apa ada pertumbuhan atau mendekati atau tidak," kata Lamhot.
Hal lain yang dia sarankan ialah Kementerian Pariwisata perlu mengintensifkan koordinasi dengan InJourney untuk meningkatkan konektivitas melalui jalur udara ke berbagai destinasi yang ada di daerah sehingga wisatawan dapat lebih mudah untuk berkunjung.
Baca juga: Pemerintah siapkan stimulus jaga ekonomi tumbuh di sektor pariwisata
Baca juga: Kemenpar dorong pertumbuhan ekonomi selama libur sekolah
Baca juga: Kemenpar promosikan wisata RI ke wisatawan Tiongkok
Baca juga: Wamen: Rupiah melemah jadi daya tarik wisatawan ke Indonesia
Pewarta: Hreeloita Dharma Shanti
Editor: Natisha Andarningtyas
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































