Bandung Barat (ANTARA) - Jalan Cikareumbi di Desa Cikidang, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, perlahan berubah menjadi lautan merah, ketika keranjang-keranjang berisi tomat afkir dibuka, sementara ribuan pasang mata menanti dimulainya Rempug Tarung Adu Tomat.
Suara kendang dan alunan musik Sunda mengiringi langkah tujuh penari yang membawa tampah berisi topeng bambu serta perisai, menciptakan suasana yang lebih menyerupai pertunjukan budaya dibanding sekadar permainan rakyat.
Satu per satu topeng dan perisai diserahkan kepada 14 pria yang kemudian berdiri saling berhadapan, mengenakan rompi pelindung layaknya prajurit yang bersiap memasuki arena pertempuran.
Sesaat setelah aba-aba terdengar, tomat-tomat beterbangan dari dua arah, pecah di atas jalan, menghantam perisai, rompi, hingga wajah para peserta yang justru membalasnya dengan tawa dan sorak kegembiraan.
Di antara semburat merah tomat yang memenuhi jalan desa itu, wisatawan, warga sekitar, pegiat fotografi, hingga anak-anak melebur menjadi satu tanpa lagi mengenal batas antara penonton dan peserta.
Tak ada rasa marah dalam setiap lemparan, sebab perang tomat di Desa Cikidang bukanlah pertarungan untuk mencari pemenang, melainkan sebuah perayaan yang lahir dari perjalanan panjang kehidupan petani Lembang.
Satu tim berjumlah tujuh orang saat bersiap melakukan perang tomat di Cikareumbi, Desa Cikidang, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Jumat (26/6/2026). ANTARA/Ilham Nugraha.Keresahan petani
Di balik kemeriahan festival tersebut, tersimpan cerita ketika hasil panen tomat pernah kehilangan nilainya, hingga membuat para petani memilih membiarkan buah itu membusuk di kebun.
Peristiwa itu terjadi pada 2011,ketika harga tomat di tingkat petani hanya sekitar Rp500 per kilogram, jauh di bawah biaya produksi yang harus dikeluarkan untuk menanam, hingga memanen.
Ketua Pelaksana Rempug Tarung Adu Tomat Acep Unan mengatakan kondisi tersebut menjadi titik awal lahirnya tradisi yang kini dikenal sebagai salah satu atraksi budaya khas Lembang.
"Ya ini sebetulnya kan bentuk protes. Dulu itu harga tomat hanya Rp500 per kilogram. Padahal modal satu pohon saja itu Rp5.000, makanya itu yang jadi kekecewaan kami," kata Acep.
Di tengah situasi tersebut, budayawan Bandung Barat Mas Nanu Muda atau Abah Nanu mengajak para petani mengubah kekecewaan menjadi sebuah pertunjukan budaya yang mengangkat kehidupan masyarakat agraris.
Editor: Masuki M. Astro
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































