Ketika konflik Timur Tengah menghentikan aktivitas ruang udara dunia

1 week ago 7
Inilah paradoks globalisasi modern, saat sebuah konflik regional dapat menghentikan mobilitas dunia hanya dalam hitungan jam.

Abu Dhabi (ANTARA) - Ketika konflik geopolitik meningkat di Timur Tengah, yang pertama kali berubah nyatanya bukan hanya dinamika militer atau diplomasi, melainkan juga aktivitas langit alias ruang udara.

Dalam hitungan jam setelah eskalasi konflik antara Iran dengan koalisi Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026, wilayah udara di sebagian besar Timur Tengah tiba-tiba senyap, kosong dari penerbangan sipil.

Jalur udara yang biasanya dipadati ribuan pesawat setiap hari mendadak sunyi. Konflik regional seketika berubah menjadi krisis mobilitas global.

Sejumlah negara di kawasan Teluk segera menutup wilayah udara mereka sebagai langkah pencegahan.

Persatuan Emirat Arab, Qatar, Bahrain, Irak, Oman, dan Kuwait termasuk di antara negara yang membatasi atau menutup operasional ruang udara setelah serangan rudal dan drone terjadi di kawasan tersebut.

Penutupan ini bukan sekadar kebijakan lokal. Jalur udara Timur Tengah adalah koridor utama yang menghubungkan Asia, Eropa, dan Afrika. Ketika koridor ini terganggu, dampaknya langsung terasa di seluruh jaringan penerbangan dunia.

Dalam beberapa hari pertama konflik saja, lebih dari 4.000 penerbangan internasional dibatalkan setiap harinya. Maskapai dari berbagai negara mulai dari British Airways, Lufthansa, Cathay Pacific, hingga maskapai-maskapai Asia menghentikan sementara penerbangan ke kawasan Teluk.

Ratusan ribu penumpang terjebak di bandara-bandara transit atau terpaksa mengubah rute perjalanan mereka. Situasi ini bahkan disebut sebagai gangguan perjalanan udara terbesar sejak pandemi COVID-19.

Di pusat krisis tersebut berdiri kota-kota yang selama ini menjadi simpul utama mobilitas global termasuk Abu Dhabi, Dubai, dan Doha. Selama dua dekade terakhir, kawasan Teluk membangun model hub penerbangan yang sangat efisien.

Dengan posisi geografis yang berada di tengah jalur antara Asia dan Eropa, bandara-bandara di kawasan ini mampu menghubungkan ratusan kota di seluruh dunia melalui satu titik transit.

Baca juga: Bandara Bali laporkan 35 penerbangan batal dampak konflik di Timteng

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |