Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pariwisata menyiapkan langkah-langkah mitigasi strategis untuk mengantisipasi dampak konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran terhadap sektor pariwisata.
"Situasi ini masih terus kita pantau. Kami akan melihat laporan-laporan terbaru, termasuk perkembangan di Bali, untuk memastikan langkah mitigasi yang tepat bagi sektor pariwisata," kata Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa dalam keterangan resmi yang dikonfirmasi di Jakarta, Jumat.
Dalam kunjungannya ke Bali pada Kamis (5/3), Ni Luh menyatakan pemerintah terus memantau perkembangan situasi yang berkaitan dengan konektivitas penerbangan dari dan menuju kawasan Timur Tengah. Situasi tersebut dikhawatirkan akan mempengaruhi arus kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia.
Baca juga: Imigrasi Bali: 302 WNA izin tinggal darurat imbas konflik Timur Tengah
Menyikapi perkembangan terkini situasi di Timur Tengah, Kemenpar berencana semakin memperkuat strategi promosi dan penetrasi pasar di kawasan Asia dan Pasifik sebagai langkah mitigasi terhadap potensi dampak konflik di Timur Tengah.
"Arahan dari Ibu Menteri Pariwisata, kita akan memperkuat pasar Asia dan Pasifik. Dengan strategi ini diharapkan dampak dari situasi di Timur Tengah tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap kinerja pariwisata Indonesia," ujar Ni Luh.
Pemerintah juga akan terus berkoordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk organisasi pariwisata dunia UN Tourism, untuk memantau perkembangan situasi global dan dampaknya terhadap mobilitas wisatawan internasional.
Ni Luh menyampaikan gangguan operasional penerbangan di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali relatif kecil. Penurunan jumlah penerbangan tercatat sekitar 0,5 persen.
Kondisi itu terjadi karena sebagian wisatawan melakukan penyesuaian rute penerbangan melalui sejumlah hub alternatif di kawasan Asia, seperti Malaysia dan Singapura. Kedua negara itu selama ini menjadi simpul konektivitas utama penerbangan menuju Indonesia, disusul sejumlah hub lain di Asia seperti Hong Kong.
Berdasarkan data konektivitas penerbangan, proporsi terbesar berasal dari Malaysia sebesar 28 persen, diikuti Singapura 18 persen, kawasan Timur Tengah 11 persen, serta Hong Kong dan hub lainnya.
"Artinya, konektivitas kita masih didominasi oleh Malaysia dan Singapura," kata Ni Luh.
Data kunjungan wisatawan mancanegara pada 2025 juga menunjukkan bahwa lima negara penyumbang wisatawan terbesar ke Indonesia berasal dari kawasan Asia dan Pasifik, yakni Malaysia, Australia, Singapura, China, dan Timor Leste.
Baca juga: Akademisi Unsoed: Konflik Timur Tengah ganggu pariwisata global
Baca juga: Kepala IMF: konflik di Timur Tengah uji ketahanan ekonomi global
Baca juga: Situs warisan dunia UNESCO di Iran rusak imbas serangan AS-Israel
Pewarta: Hreeloita Dharma Shanti
Editor: Natisha Andarningtyas
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































