Kemenkes tekankan keseimbangan asupan dalam gempuran makanan siap saji

2 weeks ago 10
Kebiasaan tersebut berpotensi meningkatkan risiko kelebihan berat badan apabila tidak diimbangi dengan konsumsi sayur, buah, dan aktivitas fisik yang cukup

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kesehatan menekankan pentingnya keseimbangan asupan gizi di tengah meningkatnya konsumsi makanan siap saji dan olahan tinggi lemak yang berpotensi memicu masalah kesehatan.

Ketua Tim Kerja Gizi Direktorat Pelayanan Kesehatan Keluarga Kemenkes, Yuni Zahraini dalam diskusi panel bertajuk Powering Healthy and Sustainable Diets through Inclusive Digital Transformation di Jakarta, Rabu, mengatakan bahwa pola konsumsi masyarakat Indonesia saat ini cenderung didominasi makanan tinggi karbohidrat dan lemak, terutama yang diolah dengan cara digoreng, khususnya di wilayah perkotaan seperti Jakarta dan sekitarnya.

“Kebiasaan tersebut berpotensi meningkatkan risiko kelebihan berat badan apabila tidak diimbangi dengan konsumsi sayur, buah, dan aktivitas fisik yang cukup,” kata dia.

Ia menjelaskan, banyak makanan cepat saji maupun jajanan digoreng menggunakan teknik deep fry pada suhu tinggi yang dapat meningkatkan kandungan lemak, termasuk lemak trans, apabila dikonsumsi berlebihan.

Baca juga: Menkes pastikan kualitas 55 prodi tambahan PPDS penuhi standar ACGME

Di sisi lain, konsumsi sayur dan buah masyarakat masih tergolong rendah, berdasarkan hasil survei kesehatan sebelumnya ada sekitar 96,7 persen penduduk belum memenuhi standar konsumsi buah dan sayur yang direkomendasikan sehingga asupan vitamin, mineral, dan serat belum terpenuhi secara optimal.

Padahal sebagaimana rekomendasi organisasi kesehatan dunia (WHO) dan juga digunakan oleh Kementerian Kesehatan dalam pedoman gizi seimbang nasional, standar minimal konsumsi buah dan sayur yang direkomendasikan adalah minimal 400 gram per hari per orang yang setara 250 gram sayur (sekitar 2–3 porsi) dan 150 gram buah (sekitar 2–3 porsi).

Menurut Yuni, prinsip gizi seimbang mengharuskan setiap kali makan mengandung sumber karbohidrat, protein, lemak, serta vitamin dan mineral secara proporsional, tidak sekadar memenuhi rasa kenyang.

"Ketidakseimbangan asupan gizi yang berlangsung dalam jangka panjang berisiko meningkatkan prevalensi obesitas, terutama pada kelompok dengan aktivitas fisik rendah seperti pekerja kantoran," cetusnya.

Kementerian Kesehatan berkomitmen untuk terus menggaungkan pentingnya pola makan beragam dan seimbang melalui berbagai platform edukasi agar masyarakat lebih bijak dalam memilih makanan serta membangun kebiasaan sehat sejak lingkungan keluarga.

Baca juga: Menkes: Batch 3 PPDS RSPPU percepat pemenuhan spesialis di daerah

Pewarta: M. Riezko Bima Elko Prasetyo
Editor: Sambas
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |