Jakarta (ANTARA) - Direktur Jenderal (Dirjen) Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Kementerian Agama (Kemenag) Abu Rokhmad meminta para penyuluh agama memanfaatkan media sosial sebagai sarana dakwah dan edukasi publik kepada masyarakat.
“Mulailah percaya diri mengaktivasi media sosial masing-masing. Apa yang dilakukan penyuluh di lapangan perlu diketahui masyarakat luas, agar manfaatnya semakin dirasakan,” ujar Abu Rokhmad dalam keterangannya di Jakarta, Kamis.
Abu Rokhmad mengatakan medan dakwah penyuluh agama kini tidak hanya ruang kajian keagamaan di kelas dan masjid atau tatap muka di majelis taklim. Medium dakwah kini semakin luas.
Ia menilai penyuluh agama perlu hadir sebagai pemengaruh kebaikan yang mampu menyebarkan pesan-pesan moderasi, kepedulian sosial, dan nilai-nilai keagamaan melalui ruang digital.
Baca juga: Kemenag bekali penyuluh agama literasi aturan KUHP
“Bersamaan itu, para penyuluh untuk terus meningkatkan kompetensi melalui pendidikan formal, uji kompetensi, pelatihan, seminar, dan berbagai program pengembangan kapasitas lainnya,” kata Abu Rokhmad.
Menurutnya, Ditjen Bimas Islam Kemenag secara berkala melakukan upaya peningkatan kapasitas penyuluh. Langkah ini sejalan dengan arahan Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar yang menempatkan penguatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai bagian penting dalam Asta Protas Kementerian Agama.
Peningkatan kompetensi penyuluh akan berkontribusi pada terwujudnya layanan keagamaan yang semakin profesional, responsif, dan berdampak bagi masyarakat. Apalagi, penyuluh agama merupakan garda terdepan Kemenag yang berinteraksi langsung dengan masyarakat dan memahami berbagai persoalan yang berkembang di lapangan.
Baca juga: Membela guru dan penyuluh agama honorer
“Para penyuluh agama adalah ujung tombak pembinaan keagamaan. Mereka tidak bekerja di balik meja, tetapi hadir langsung di tengah masyarakat dan memahami denyut persoalan umat,” ujarnya.
Abu Rokhmad juga mendorong spesialisasi kompetensi di kalangan penyuluh agama. Ia mencontohkan ada penyuluh yang fokus pada pemberdayaan ekonomi umat, pengelolaan zakat dan wakaf, penanganan konflik sosial-keagamaan, hingga penguatan keluarga.
Menurutnya, spesialisasi tersebut akan menjadi nilai tambah, sekaligus memperkuat peran strategis penyuluh dalam mendukung program pembangunan nasional.
“Kita tidak boleh hanya menjadi generalis. Penyuluh perlu memiliki keahlian khusus yang membuat keberadaannya semakin dibutuhkan masyarakat,” kata Dirjen Bimas Islam Kemenag Abu Rokhmad.
Baca juga: Kemenag minta penyuluh agama perkuat persatuan dan harmoni sosial
Pewarta: Asep Firmansyah
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































