Mataram (ANTARA) - Ketika langit di kawasan Timur Tengah kembali memerah oleh eskalasi militer, kecemasan tak hanya terasa di Teheran, Riyadh, atau Abu Dhabi. Getarnya sampai ke ruang-ruang keluarga di Indonesia, termasuk di Nusa Tenggara Barat (NTB).
Telepon genggam menjadi penawar sekaligus sumber cemas. Satu pesan singkat bertuliskan aman bisa menenangkan. Namun jeda yang terlalu lama tanpa kabar mampu memicu kegelisahan.
Konflik terbuka antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran sejak akhir Februari 2026 memicu penutupan ruang udara di sejumlah negara Teluk. Dampaknya cepat dan nyata.
Penerbangan internasional terganggu, sebagian dibatalkan, sebagian dialihkan. Dalam situasi seperti ini, jaminan keamanan bagi warga negara Indonesia menjadi pertaruhan kredibilitas negara.
Data dari Kedutaan Besar Republik Indonesia di Teheran menyebutkan terdapat 329 Warga Negara Indonesia (WNI) yang tercatat berada di Iran, enam di antaranya ditampung sementara di KBRI karena tidak lagi memiliki tempat tinggal akibat pengosongan asrama.
Jumlah itu bisa lebih besar mengingat masih ada WNI yang belum melapor. Di sisi lain, Kementerian Haji dan Umrah mencatat sekitar 58.873 jamaah umrah Indonesia masih berada di Arab Saudi berdasarkan Sistem Komputerisasi Pengelolaan Terpadu Umrah dan Haji Khusus (Siskopatuh). Angka-angka ini bukan sekadar statistik. Di baliknya ada keluarga, ada kampung halaman, ada harapan untuk kembali dengan selamat.
Bagi NTB, isu ini memiliki dimensi khusus. Pemerintah Kota Mataram mencatat 238 pekerja migran Indonesia asal kota itu berada di Timur Tengah, dengan 199 orang di Arab Saudi, 33 di Uni Emirat Arab, empat di Kuwait, dan dua di Bahrain.
Pemerintah Provinsi NTB pun bergerak cepat melakukan koordinasi dengan para duta besar di kawasan tersebut untuk memastikan keselamatan warganya. Respons ini menunjukkan bahwa urusan perlindungan warga tidak berhenti di batas teritorial.
Baca juga: Dubes: Pelindungan WNI di Iran komprehensif, bukan sekadar evakuasi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































