Jakarta (ANTARA) - Indonesia Maritime Community Forum (IMCF) bersama Kementerian Perhubungan memperkuat kolaborasi meningkatkan kesejahteraan, perlindungan, dan kompetensi pelaut Indonesia dalam peringatan Hari Pelaut Sedunia (Day of The Seafarer) 2026.
"Indonesia Maritime Community atau IMCF memberikan perhatian kepada para pelaut Indonesia pada momen hari Pelaut Sedunia," kata Ketua Pelaksana Day of The Seafarer 2026 Dede Saputra dalam keterangannya di Jakarta, Jumat.
Dia mengatakan, perhatian kepada para pelaut tersebut diwujudkan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kemenhub dengan memberi santunan kepada para pelaut yang gugur dalam melaksanakan tugas.
Adapun beberapa pelaut yang gugur saat melaksanakan tugas di antaranya Aslan Yusuf dari PT Hanmarine Global Indonesia dengan santunan yang diberikan kepada keluarga senilai Rp2.118.494.400.
Selanjutnya Agus Muslim dari PT Kusuma Bahari Jaya dengan santunan Rp1.267.489.128; dan William Tandera dari PT Abadi Cemerlang dengan santunan senilai 60.000 dolar Amerika Serikat (AS). Seluruh santunan diberikan kepada keluarga yang mewakili.
Menurut Dede hal tersebut menegaskan bahwa kesejahteraan, perlindungan, kompetensi, dan masa depan pelaut merupakan tanggung jawab bersama, mengingat peran strategis mereka sebagai garda terdepan konektivitas nasional dan perdagangan dunia.
"Ini sekaligus untuk mendorong lahirnya kebijakan dan program yang memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan serta perlindungan pelaut Indonesia," pungkasnya.
Wakil Menteri Perhubungan Suntana menegaskan peringatan Hari Pelaut Sedunia tahun ini menjadi momentum untuk memberikan penghormatan kepada para pelaut yang selama ini menjadi tulang punggung perdagangan global, sekaligus menghadapi berbagai risiko dalam menjalankan profesinya.
Dengan tingginya risiko yang diemban, Wamenhub mengungkapkan Kementerian Perhubungan terus berkomitmen agar pelaut Indonesia dapat terjamin hak-haknya termasuk perlindungan, dan kesejahteraan yang layak.
Direktur Jenderal (Dirjen) Perhubungan Laut Kemenhub Muhammad Masyhud menambahkan Indonesia memiliki sekitar 1,6 juta pelaut sebagai salah satu dari lima pemasok terbesar dunia yang harus didukung peningkatan kompetensi, penguasaan teknologi, dan perlindungan memadai.
Oleh karena itu, pemerintah terus memperkuat sistem sertifikasi kepelautan, digitalisasi pelayanan, serta pengawasan implementasi standar internasional seperti STCW Convention dan Maritime Labour Convention (MLC) 2006.
"Selain itu, perlindungan terhadap hak-hak pelaut, keselamatan kerja, kesehatan, dan kesejahteraan juga menjadi prioritas utama,” tegasnya.
Masyhud menambahkan, saat ini, terdapat lebih dari 100 lembaga pendidikan dan pelatihan kepelautan yang terus Ditjen Perhubungan Laut bina agar memenuhi standar internasional.
"Selain itu, fasilitas simulator juga terus kami tingkatkan, kualitas instruktur diperkuat, dan kurikulum diselaraskan dengan kebutuhan industri maritim global,” kata Masyhud.
Baca juga: Hari Pelaut Sedunia, Kereta Api Jadi Bagian dari Konektivitas Darat di Sekitar Pelabuhan
Baca juga: Kemenhub tegaskan perlindungan dan penguatan daya saing pelaut RI
Baca juga: Pertamina Patra Niaga seleksi 101 kandidat pelaut andal di lima kota
Pewarta: Muhammad Harianto
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































