Uni Eropa (ANTARA) - Selama sebulan terakhir, perhatian ekonomi global tertuju ke Timur Tengah, menunggu tanda-tanda apakah dampak dari perang di Iran akan mulai memengaruhi berbagai pasar.
Kini, kenaikan harga bahan bakar yang terkait dengan perang mulai mengubah pasar mobil di Eropa, dengan lonjakan tajam permintaan mobil listrik bekas ketika pembeli merespons meningkatnya biaya bahan bakar.
Sejak perang dimulai pada 28 Februari, gangguan di Selat Hormuz—jalur pengiriman yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak global—telah mendorong harga bensin naik di seluruh Eropa. Harga rata-rata bensin di Uni Eropa meningkat sekitar 12 persen antara akhir Februari hingga pertengahan Maret, mencapai sekitar 1,84 euro (Sekitar Rp36 ribu) per liter.
Laman Autoweek, Kamis (26/3) waktu setempat, melaporkan bahwa kenaikan ini dengan cepat memengaruhi perilaku pembeli, terutama di pasar mobil bekas. Situs jual beli online di seluruh Eropa mencatat lonjakan minat dan penjualan kendaraan listrik, dengan mobil listrik mulai mengungguli model berbahan bakar bensin dan diesel.
Baca juga: Harga Tesla bekas melonjak dibandingkan mobil EV lainnya
“Saat ini terjadi lonjakan besar mobil listrik di pasar mobil bekas,” kata analis di marketplace Finn.no Norwegia, Terje Dahlgren.
Aramisauto, perusahaan ritel berbasis di Prancis, menyatakan bahwa penjualan mobil listriknya hampir dua kali lipat dalam periode tiga minggu. Pada saat yang sama, penjualan kendaraan berbahan bakar bensin dan diesel menurun. CEO Aramisauto, Romain Boscher, mengatakan perubahan ini terutama dipicu oleh sensitivitas terhadap harga.
Sejumlah platform di Eropa melaporkan tren serupa. Operator marketplace OLX mencatat peningkatan pencarian mobil listrik sebesar 50 persen di Prancis, 54 persen di Portugal, serta hampir 40 persen di Polandia dan Rumania. Di Jerman, mobile.de melaporkan pencarian terkait mobil listrik meningkat tiga kali lipat pada awal Maret, sementara pertanyaan kepada diler naik 66 persen.
Para analis menyebutkan bahwa segmen mobil listrik bekas sangat cocok untuk mengisi kebutuhan saat harga bahan bakar melonjak, karena kendaraan bekas lebih terjangkau dan tersedia lebih cepat dibandingkan mobil baru yang sering memiliki waktu pengiriman panjang.
Baca juga: BYD kaji ekosistem kelola baterai bekas mobil listrik di Indonesia
Baca juga: Riset AS dan China soroti penuaan dan regenerasi baterai EV bekas
Baca juga: Baterai mobil listrik bekas ternyata masih kuat, Kia EV6 terbaik
Pewarta: Pamela Sakina
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026


















































