Jakarta (ANTARA) - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) memastikan Indonesia tetap menjadi pemasok minyak sawit yang stabil, bertanggung jawab dan andal bagi pasar Pakistan, yang merupakan salah satu importir minyak sawit terbesar di dunia.
Hal itu dikatakan Ketua Umum Gapki Eddy Martono dalam kegiatan The Indonesia Palm Oil Networking Reception yang digelar Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Karachi, bekerja sama dengan Gapki di Kota Karachi, Pakistan, Jumat (9/1).
"Bersama para mitra di Pakistan, kami akan memfasilitasi kontrak dagang langsung antara produsen Indonesia dan pembeli Pakistan guna menjamin ketersediaan pasokan minyak sawit bagi kebutuhan pangan dan industri di Pakistan, sekaligus mendorong kolaborasi teknis di bidang refinery dan pengolahan minyak sawit," ujarnya dalam keterangannya di Jakarta, Senin.
Pada kesempatan tersebut Eddy Martono menyatakan Gapki berperan sebagai mitra strategis pemerintah khususnya KJRI Karachi dan Kementerian Perdagangan Republik Indonesia dalam memperkuat hubungan bilateral yang salah satu tugasnya adalah menyediakan informasi yang akurat mengenai praktik industri kelapa sawit Indonesia.
Selain itu, tambahnya, Gapki juga berfungsi sebagai wadah bagi para pelaku usaha kelapa sawit untuk memberikan masukan kepada Pemerintah Indonesia khususnya Kementerian Perdagangan dalam perumusan kebijakan ekspor yang mendukung daya saing produk Indonesia di pasar global, termasuk Pakistan.
Dalam konteks acara The Indonesia Palm Oil Networking Reception, lanjutnya, Gapki menjadi penggerak utama sektor swasta yang memastikan komitmen politik pemerintah dapat diterjemahkan ke dalam transaksi nyata serta kemitraan jangka panjang yang saling menguntungkan.
Eddy mengungkapkan kebutuhan minyak sawit negara itu sebagian besar berasal dari Indonesia yang mana dari 150 negara tujuan ekspor minyak sawit Indonesia, Pakistan berada di urutan ketiga.
Berdasarkan Oil World 2025, dari tahun ke tahun, nilai ekspor sawit Indonesia ke Pakistan terus meningkat, yang mana terbesar pada 2024 dengan total ekspor minyak sawit mencapai 3 juta ton lebih.
Dibandingkan negara produsen sawit lainnya, Indonesia ternyata memasok 90 persen kebutuhan minyak sawit Pakistan.
Sementara itu Duta Besar RI untuk Pakistan Chandra W. Sukotjo menekankan bahwa industri sawit merupakan pilar utama hubungan ekonomi kedua negara.
Indonesia, tambahnya, berkomitmen untuk mendorong kemakmuran bersama dan hubungan perdagangan yang lebih berimbang, termasuk melalui peningkatan impor dari Pakistan serta penjajakan penciptaan nilai bersama di luar perdagangan yang bersifat transaksional.
Menurut dia, Karachi sebagai gerbang ekonomi Pakistan, diakui sebagai mitra alami bagi Indonesia dalam memperluas jangkauan ekonomi di kawasan Asia Selatan.
"Pertemuan ini merupakan wadah untuk mengakui kemitraan yang telah ada, memperkuat kepercayaan, serta menjajaki peluang baru menuju kerja sama ekonomi yang lebih terstruktur dan berorientasi masa depan," ujarnya.
Saat menyampaikan pidato, Wakil Menteri Perdagangan Republik Indonesia Dyah Roro Esti kembali menegaskan pentingnya pasar Pakistan bagi Indonesia.
“Pakistan penting bagi Indonesia. Pasar Pakistan, industri Pakistan, dan konsumen Pakistan sangat penting bagi kami,” katanya.
Wamendag juga menegaskan komitmen Indonesia untuk menciptakan perdagangan yang lebih berimbang, dengan membuka peluang yang lebih luas bagi produk-produk unggulan Pakistan, mulai dari sektor pertanian hingga layanan digital.
Sebagai bentuk konkret penguatan kerja sama, pada kesempatan ini dilakukan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) tentang pembentukan Komisi Perdagangan Bersama Indonesia – Pakistan.
Selain itu juga penandatanganan MoU tentang Kerja sama antara Gapki dengan PEORA (Pakistan Edible Oil Refiners Association dan PVMA (Pakistan Vegetable Manufacturers Association) yang bertujuan untuk mengamankan rantai pasok serta menjaga stabilitas harga minyak sawit di kedua negara.
Baca juga: Gapki catat konsumsi domestik minyak sawit naik, BMA optimistis penjualan melonjak
Baca juga: Gapki: Kinerja industri sawit 2025 tunjukkan percepatan
Baca juga: Gapki sebut penerapan B50 berpotensi naikkan harga CPO
Pewarta: Subagyo
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































