Samarinda (ANTARA) - Di sepanjang garis pantai, di tengah hamparan hutan tropis, di sepanjang aliran sungai yang berkelok-kelok menembus pedalaman, dan di atas bukit-bukit karst yang menjulang, tersimpan satu harapan yang selama bertahun-tahun terasa begitu jauh: listrik.
Bagi sebagian masyarakat di pelosok Kalimantan Timur, malam yang gelap bukanlah sesuatu yang asing. Selama puluhan tahun, kegelapan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Memang, beberapa desa yang belum terjangkau jaringan PLN telah menikmati listrik pada malam hari. Namun, itu hanya dinikmati oleh warga yang mampu memiliki generator set (genset) atau bergotong royong membeli bahan bakar minyak untuk mengoperasikannya. Itupun hanya berlangsung beberapa jam dan hanya bisa dinikmati sebagian kecil masyarakat.
Tanpa aliran listrik yang tetap, roda kehidupan bergerak lambat.. Lampu minyak masih menjadi sumber penerangan utama, aktivitas masyarakat berhenti ketika matahari tenggelam, sementara kesempatan untuk berkembang seolah tertahan oleh jarak dan beratnya medan yang harus ditembus.
Kini, perubahan besar tengah berlangsung. Sedikit demi sedikit, jaringan listrik mulai menjangkau wilayah-wilayah yang selama ini terisolasi, membawa bukan hanya cahaya, tetapi juga harapan akan masa depan yang lebih baik.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) bersama PT PLN Unit Induk Distribusi Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara (UID Kaltimra) telah menandatangani kesepakatan strategis melalui Program Elektrifikasi Pedesaan.
Targetnya jelas, seluruh desa di Kalimantan Timur harus menikmati akses listrik paling lambat pada akhir 2027. Bukan sekadar janji, melainkan peta jalan yang telah dijalankan dan terus dipercepat demi mewujudkan pemerataan pelayanan dasar bagi seluruh masyarakat.
General Manager PLN UID Kaltimra Muchamad Chaliq Fadli, menjelaskan bahwa perjalanan menuju target tersebut telah dimulai sejak beberapa tahun terakhir.
Keberhasilan menyelesaikan pembangunan jaringan listrik di 41 lokasi sepanjang 2025 menjadi bukti awal komitmen itu. Upaya tersebut kemudian dipercepat pada 2026 dengan pembangunan jaringan baru di 36 lokasi yang tersebar di berbagai wilayah pelosok.
"Harapan kami sangat besar. Kami pastikan bahwa pada 2027, tidak ada lagi desa di Kaltim yang tertinggal dalam kegelapan. Seluruhnya akan teraliri listrik secara tetap dan andal," ujar Chaliq.
Komitmen tersebut mendapat apresiasi dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur. Wakil Gubernur Kaltim Seno Aji menilai program ini menjadi bukti nyata kehadiran negara hingga ke wilayah paling terpencil.
Bagi masyarakat yang selama ini hidup dengan keterbatasan akses energi, listrik bukan sekadar fasilitas. Kehadirannya menjadi kunci untuk membuka berbagai potensi daerah yang selama ini belum berkembang.
"Capaian ini menjadi bukti konkret bahwa pemerintah hadir untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat. Khususnya bagi warga di pedesaan dan wilayah terpencil yang selama ini belum terlayani secara optimal," ujar Seno.
Untuk memastikan target ini tidak terhambat, Pemprov Kaltim menyatakan siap menjadi mitra strategis PLN. Berbagai hambatan birokrasi akan dipangkas, proses perizinan dipercepat, dan seluruh perangkat daerah diminta memberikan dukungan teknis agar pembangunan berjalan sesuai jadwal.
Prinsipnya, pemerintah daerah siap berkolaborasi penuh. Seluruh dinas terkait telah diinstruksikan memfasilitasi kebutuhan PLN agar pembangunan jaringan listrik dapat berlangsung lancar dan tepat waktu.
Baca juga: PLN teken perjanjian jual beli listrik PLTA Batoq Kelo di Kaltim
Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































