Makassar (ANTARA) - Universitas Hasanuddin (Unhas) berkomitmen mempersiapkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tidak hanya diposisikan sebagai unit produksi, tetapi juga sebagai simpul integrasi antara riset, keahlian, dan implementasi.
Rektor Unhas Prof Dr Jamaluddin Jompa di Makassar, Kamis, mengatakan dalam konteks ini pihaknya berupaya memastikan bahwa seluruh proses mulai bahan baku dari produk unggulan Unhas hingga distribusi produk berjalan dengan melibatkan sumber daya internal kampus.
Pengembangan SPPG Unhas melalui Yayasan Metavisi Akademika Nusantara (MAN) diarahkan untuk mendukung implementasi MBG dengan menyiapkan dapur produksi makanan bergizi yang akan disalurkan ke sekolah-sekolah.
“SPPG ini kita dorong agar seluruh prosesnya berbasis pada kekuatan internal Unhas, termasuk pelibatan para ahli gizi," ujarnya.
Baca juga: BGN sebut SPPG yang dihentikan sementara terus perbaiki kualitas
"Kita ingin memastikan bahwa setiap produk yang dihasilkan tidak hanya berkualitas, tetapi juga memberikan jaminan pemenuhan gizi bagi masyarakat,” lanjutnya ketika meninjau progres dan kesiapan SPPG Unhas.
Dapur MBG Unhas dipersiapkan pada lokasi di samping Masjid Kampus Unhas. Sebelumnya, Unhas mempersiapkan bangunan eks kantin di area Asrama Mahasiswa Unhas. Namun karena beberapa pertimbangan teknis, lokasinya dipindahkan ke area baru.
Keberadaan SPPG menjadi bagian dari pendekatan hulu ke hilir yang dikembangkan Unhas. Kampus tidak hanya berperan dalam menghasilkan pengetahuan melalui riset, tetapi juga memastikan hasil riset tersebut diimplementasikan dalam bentuk produk dan layanan yang berdampak langsung.
“Ini adalah bagian dari kontribusi Unhas dalam mendukung program pemerintah, sekaligus memastikan bahwa keilmuan yang kita miliki benar-benar hadir untuk masyarakat. Kita ingin bergerak dari hulu ke hilir, dari kampus untuk kemajuan masyarakat,” lanjut Prof JJ.
Baca juga: Purbaya sebut efisiensi MBG bisa hemat Rp40 triliun per tahun
Dalam pengembangannya, SPPG Unhas juga memiliki potensi sebagai pusat inovasi dan pengembangan produk pangan berbasis gizi yang berkelanjutan.
Tidak hanya berfungsi sebagai penyedia produk, SPPG diharapkan menjadi laboratorium hidup yang menghubungkan kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Mahasiswa, dosen, dan tenaga ahli dapat terlibat langsung dalam proses produksi dan pengembangan, sehingga tercipta ekosistem pembelajaran yang aplikatif dan kontekstual.
“Kita ingin menjadikan SPPG ini berbasis riset, data, dan inovasi, Dengan begitu, dampaknya bisa berkelanjutan dan benar-benar dirasakan oleh masyarakat,” urai Prof. JJ.
Baca juga: Anggota DPR apresiasi penindakan SPPG bermasalah
Pewarta: Abdul Kadir
Editor: Riza Mulyadi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































