Jakarta (ANTARA) - PT Chandra Asri Pacific Tbk menyiapkan langkah mitigasi risiko untuk menjaga kelangsungan operasional pabrik di tengah ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memicu penutupan Selat Hormuz dan berpotensi mengganggu rantai pasok industri petrokimia.
Direktur Sumber Daya Manusia dan Urusan Korporasi PT Chandra Asri Pacific Tbk Suryandi dalam pernyataan di Jakarta, Kamis mengatakan perusahaan telah menyiapkan sistem manajemen pasokan serta perencanaan operasional guna menghadapi dinamika global tersebut.
“Dalam konteks perkembangan situasi geopolitik global, termasuk potensi gangguan distribusi energi dan logistik di kawasan strategis seperti Selat Hormuz, penyampaian pemberitahuan ini merupakan langkah mitigasi risiko dan bentuk kehati-hatian korporasi,” ujarnya.
Ia menjelaskan deklarasi force majeure yang disampaikan perusahaan merupakan bentuk transparansi kepada investor dan mitra usaha terkait situasi eksternal di luar kendali perusahaan, serta merupakan praktik umum dalam bisnis global saat terjadi gangguan signifikan pada jalur logistik internasional.
Baca juga: Chandra Asri dukung penyediaan energi bersih wujudkan kota hijau
Suryandi menegaskan status force majeure tidak identik dengan penghentian aktivitas produksi.
“Saat ini seluruh fasilitas produksi Chandra Asri tetap beroperasi. Tidak terdapat penghentian operasional, baik di kawasan industri Cilegon maupun fasilitas kami di Singapura,” ujar Suryandi.
Menurutnya, penutupan Selat Hormuz sebagai jalur strategis distribusi energi dan bahan baku global memang memicu gangguan logistik di berbagai negara. Sejumlah perusahaan yang memiliki ketergantungan impor dari kawasan tersebut turut merasakan perlambatan pengiriman.
Namun, pihaknya memastikan gangguan eksternal tersebut tidak menghentikan aktivitas produksi, berkat kesiapan sistem manajemen risiko yang telah dibangun sebelumnya.
Pewarta: Ahmad Muzdaffar Fauzan
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































